Oleh Wiwid prasetyo

Aku punya teman, Ia gandrung dengan jimat karena kakeknya adalah seorang pejuang yang gagah berani, maju bertempur ke medan perang karena punya piandel atau jimat berupa rajah-rajah arab untuk membuatnya cokndal (bacok mendal) alias kebal senjata.
Dari cerita-cerita kakeknya itu pulalah Ia telah menyeberangi sungai, membelah gunung, berenang-renang di samudera luas demi satu tujuan, jimat. Dari hobinya berburu jimat itu pulalah Ia pernah singgah di Gunung Kawi, kungkum di Gunung Kemukus sampai makam-makam para wali. Bahkan dari hobinya itu iseng-iseng Ia melamar wartawan di tabloid mistik ibukota dan Ia diterima.
Kali ini Ia mengajakku untuk mengunjungi situs Kerajaan Majapahit di Trowulan Mojokerto Jawa Timur, untuk peliputan tabloidnya. Aku yang seorang fotografer amatir ini sengaja diajak untuk memfoto objek-objek yang ada disana, tetapi secara khusus Ia ingin membuktikan roh Gajahmada. Jijiknya lagi Karmin sengaja pergi ke orang pintar dulu untuk memastikan dulu dimana roh Gajahmada berada. Sesampai disana, ah sial, tustel yang aku bawa adalah tustel digital yang rumit dalam pengoperasian teknisnya. Aku pura-pura bisa, jepret sana-jepret sini, tanpa pernah paham hasilnya seperti apa.
Selama kurang lebih lima jam, kami menyelidiki situs Majapahit dan ketika dirasa semua sudah cukup kami akhirnya pulang. Kami mengendarai kendaraan, Karmin di depan mengemudi, aku diboncengkannya dengan rasa was-was, sepeda motor itu selalu melaju di atas 80 km, aku berteriak keras-keras agar Karmin mengurangi laju kendaraannya tetapi Karmin seperti tak peduli, bahkan Ia mengatakan “Jangan takut Dul, aku sudah dibekali jimat oleh dukun tadi, nyawaku bisa rangkap tujuh!” kata Karmin suaranya diterpa angin. Aku jelas khawatir, sebab Karmin itu ugal-ugalan dalam mengemudikan kendaraannya, tak mengindahkan lampu lalu lintas dan selip sana selip sini tanpa lampu reteng.
Huh, lagi-lagi jimat, lagi-lagi piandel!, aku benar-benar jengkel jika Karmin sudah mengatakan itu. Jimat bagiku tidak bermanfaat, ngomong-ngomong soal jimat, akupun juga punya jimat, jimatku berupa kehati-hatian berkendara, kemampuan teknis berkendara di jalan yang pernah di terangkan oleh bapak polisi di Satlantas, sewaktu mencari SIM. Tak lupa juga doa akan bepergian dan ayat kursi sepanjang perjalanan, bukankah itu lebih aman?
Sesampai di rumah, aku lihat hasil fotonya ternyata semua buram, kabur dan sebagian gambar berwarna hitam. Melihat ini, apa kata Karmin “Ah, rupanya tempat itu benar-benar angker dan disucikan, di fotopun tidak ada hasilnya” dalam hati aku tertawa geli, dasar pola pikir mistik ya tetap mistik, hasil kabur dari foto-foto itu karena ketidak mampuanku menguasai teknologi kok dikatakan karena tempatnya yang angker, kesimpulan yang ngawur, berlandaskan pla pikir yang dikerubuti mistik dan takhayul