“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain ALLAH; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim.”
(QS. Yunus: 106)
Makam Keramat, keris keramat, gua keramat, dan banyak macam lagi. Meski berawal dari makna karomah yang berarti kemuliaan, segala kekeramatan ini nyatanya bisa membawa orang menuju penyimpangan akidah.
Hampir di setiap daerah di Indonesia terdapat tempat-tempat “Istimewa” yang menjadi tujuan ziarah. Hari-hari menjelang datangnya Ramadhan, selepas Ramadhan, Rabiul Awwal (bulan Maulid) adalah waktu yang seringkali dipilih untuk mengunjungi tempat-tempat ziarah itu. Selain mereka yang datang itu secara pribadi atau bersama keluarga, tidak jarang sebuah majelis ta’lim mengoordinir keberangkatan jamaahnya untuk berangkat ke tempat-tempat itu. Berbondong-bondonglah orang datang ke tempat itu.
Harapan para peziarah beraneka rupa. Tapi sangat banyak yang berintikan permohonan. Mengapa memohon di tempat-tempat itu, karena, kata mereka tempat-tempat itu merupakan tempat keramat. Bukan sembarang tempat. Ada yang bentuknya kuburan, goa, bukit atau gunung. Dan tidak sedikit pula yang dikeramatkan selain tempat, yaitu berupa patung, batu, keris, atau benda-benda pusaka lainnya.
Berkaitan dengan dengan tempat-tempat yang dikeramtkan, biasanya beredar mitos-mitos dan cerita keanehan yang disampaikan dari mulut ke mulut. Tentu saja mitos itu tidak dapat dibuktikan. Tapi herannya mereka sangat menyakini mitos tersebut. Misalnya saja mitos tentang sebuah gua di Tasikmalaya. Sebagian orang mempercayai itu adalah jalan menuju Mekkah. Sampai-sampai ada yang meyakini bahwa bila orang berhasil masuk ke dalamnya berarti dia sudah pergi ke Mekkah (naik Haji). Atau orang yang mendatangi gunung Kawi. Mereka yang pergi ke tempat tersebut karena di dorong keyakinan, kalau ingin menjadi kaya harus berziarah kesana. Tentu dengan berbagi ‘lelaku’ dan syarat tertentu yang harus dipenuhi.
Bagaimana menurut Islam, adakah keramat atau karomah itu? Islam sesungguhnya mempunyai sikap yang jelas tentang hal itu. Tujuannya adalah untuk menjaga agar keimanan manusia tidak terkotori oleh aneka bentuk kesyirikan. Pengabdian kepada ALLAH tidak boleh ternodai sedikitpun oleh pemujaan ataupun ketergantungan kepada makhluk.
ALLAH berfirman, “Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya TUHAN kamu itu adalah TUHAN yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan TUHAN-nya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada TUHAN-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110)
Inilah beberapa prinsip dalam akidah Islam yang harus menjadi pegangan dalam hal ini:
Pertama, manusia adalah makhluk paling mulia di muka bumi. ALLAH telah mengangkat derajat manusia di atas makhluk yang lain. Adalah merupakan kehinaan jika manusia bergantung kepada makhluk lain. ALLAH telah berfirman, “Dan sesungguhnya telah KAMI muliakan anak-anak Adam, KAMI angkut mereka di daratan dan di lautan, KAMI beri mereka rezki dari yang baik-baik dan KAMI lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah KAMI ciptakan.” (QS. Al-Isra: 70)
Kedua, benda-benda itu tunduk kepada aturan ALLAH (sunatullah) dan tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat kepada manusia tanpa seizin ALLAH. Nabi Ibrahim, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an, hampir memuja bintang, bulan dan matahari. Tapi setelah terbukti bahwa semua itu tidak punya kekuatan apapun yang menjadikannya berhak disembah, bahkan mereka tunduk pada sebuah batasan yang ALLAH tetapkan bagi mereka, maka Nabi Ibrahim pun berpaling darinya untuk menghadap hanya pada ALLAH saja. ALLAH berfirman, “Dan demikianlah KAMI perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (KAMI yang terdapat) di langit dan bumi dan (KAMI memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku”, tetapi tatkala bintang itu tenggelam dia berkata: “Saya tidak suka kepada yang tenggelam.” Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku.” Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat.” Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: “Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar.” Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada RABB yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan TUHAN.” (QS. Al-An’am: 75-69)
Ketiga, Rasulullah SAW telah menegaskan hanya ada tiga tempat yang boleh menjadi tujuan perjalanan ‘khusus’. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan sabda Rasulullah SAW, “Tidak ada perjalanan yang harus didorong dengan kuat kecuali ke tiga tempat, yakni Masjid Haram, Masjidil Aqsha, dan Masjidku (Masjid Nabawi).”
Maksud hadits ini adalah terlarang menjadikan suatu tempat sebagai tujuan perjalanan yang dianggap sebagai ibadah. Hanya tiga tempat itulah yang dianggap sakral. Adapun tempat lain haruslah dianggap sebagai tempat biasa. Namun demikian, kelebihan ketiga tempat tersebut bukan terletak pada keramat tempatnya, tapi pada pahala yang ALLAH lipat gandakan apabila kita shalat di tiga masjid.
Keempat, Rasulullah SAW melarang kaum Muslimin menjadikan tempat atau benda keramat. Pada suatu hari beberapa orang yang baru saja masuk Islam, bersama Rasulullah SAW melewati sebuah pohon di mana orang-orang musyrik biasa bertapa dan menggantungkan pedang-pedang mereka di sana. Pohon itu disebut Dzatu Anwath. Orang-orang itu mengatakan, “Ya Rasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka punya Dzatu Anwath.” Rasulullah SAW mencegah mereka dengan mengatakan, “ALLAH Maha Besar. Itu adalah cara orang-orang musyrik. Kalian telah mengatakan apa yang dikatakan Bani Israil, ‘Buatkanlah untuk kami tuhan-tuhan (patung-patung) sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.’ Sungguh mereka itu orang-orang yang bodoh.” (HR. Tirmidzi)
Kelima, Umar bin Khaththab pernah memerintahkan menebang pohon (Syajaratur Ridwan) karena banyak yang mendatangi dan shalat (berdoa) di sekitarnya. Begitu pula pada waktu lain, Umar pernah berbicara di depan Hajar Aswad, “Aku tahu bahwa kamu adalah batu yang tidak dapat memberikan manfaat maupun mudharat. Seandainya aku tidak melihat Rasululah SAW menciummu niscaya aku tidak akan menciummu.”
Selain itu, beribadah berupa melakukan shalat dikuburan sekalipun di kuburan Nabi, dan berdoa dengan bertawasul kepada orang yang telah mati merupakan perbuatan syirik yang dilarang. Rasulullah SAW telah memperingatkan, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya umat-umat sebelum kamu telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai tempat beribadah, tetapi janganlah kamu menjadikan kuburan sebagai tempat ibadah, karena aku benar-benar melarang kamu melakukan hal itu.” (HR. Muslim)
Al-Khalkhali berkata, “Pengingkaran Nabi SAW terhadap perbuatan mereka tersebut dapat diartikan dalam dua makna. Pertama, bahwa mereka bersujud terhadap kuburan para Nabi untuk mengagungkan utusan ALLAH tersebut. Kedua, bahwa mereka menganggap boleh melakukan shalat di kuburan para nabi dan menghadap ke arahnya ketika melakukan shalat, karena mereka memandang hal tersebut sebagai bentuk ibadah kepada ALLAH dan merupakan cerminan sikap pengagungan kepada para Nabi tersebut. Makna pertama merupakan Syirik Jaly (syirik tampak jelas) dan makna yang kedua adalah Syirik Khafi (syirik tersembunyi), oleh karena itu mereka berhak dilaknat.”
Ingatlah, bahwa berdoa dan memohon kepada ALLAH bisa dilakukan dimana pun karena ALLAH itu dekat dan Maha Mendengar. Oleh karena itu, penuhilah syarat-syarat berdoa, antara lain ikhlas, khusyu’, dan yakin bahwa ALLAH akan mengabulkan doa yang kita panjatkan. Dan perantara (tawasul) yang di syariatkan hanyala bertawasul dengan Nama-nama dan Sifat-sifat ALLAH, dengan amal shalih yang kita lakukan dan meminta kepada orang shalih yang masih hidup agar mendoakan kita.

Sumber: Ummi No. 06 Oktober 2007