Dan hanya kepada ALLAH hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maa’idah: 23)

Pernah seorang ‘kyai’ tiba-tiba menghentikan ceramahnya lalu berkata: “Disini ada yang mengunjing saya, buktinya, MATA saya kedutan.” Percayakah anda dengan kesimpulan sang kyai tersebut?


Mungkin anda pernah mengalami kedutan, yakni adanya getaran cepat pada bagian tubuh tertentu. Datangnya tiba-tiba, dan tidak dapat dikendalikan gerakannya. Mungkin dari sinilah kemudian orang membuat tafsiran yang bermacam-macam tentang kedutan. Untuk setiap anggota badan yang kedutan memiliki tafsiran yang berbeda.
Konon, jika seluruh bagian tubuh berkedut, itu tandanya akan menghadapi banyak urusan. Jika hanya kepala sebelah kiri saja berarti akan mendapat rezeki ‘nomplok’. Jika kepala sebelah kanan yang berkedut, artinya akan mendapat pujian orang banyak. Jika alis yang berkedut katanya pertanda akan bertemu dengan orang dicintai. Lain halnya jika yang berkedut adalah kulit mata sebelah kanan, konon dia akan menangis karena akan mendapatkan kejadian yang menyakitkan. Ada juga yang bilang kalau daun telinga berkedut itu tandanya orang membicarakan keburukannya.
Begitulah seterusnya, orang membuat tafsir kedutan dari ubun-ubun hingga ujung kaki. Katanya kedutan pada ubun-ubun adalah alamat akan diangkat jadi pemimpin, sedangkan kedutan ditumit pertanda dia akan prihatin dan bekerja keras.
Bagi orang yang mempercayai kebenaran bahwa kedutan membawa tanda-tanda tertentu, maka dia akan berharap-harap mendapat kebaikan apabila kedutan tersebut pada bagian-bagian yang dianggap membawa kebaikan. Dan bila kedutan tersebut memberi tanda keburukan, maka hatinya akan cemas memikirkan keburukan yang akan menimpanya tersebut.

Firasat Memang Ada
Kalangan ulama tidak mengingkari adanya firasat yang dimiliki oleh orang mukmin, apalagi ada hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi yang berbunyi, “Hati-hatilah dengan firasatnya orang mukmin, karena dia melihat dengan cahaya ALLAH.” (HR. Tirmidzi, Gharib)
Ibnul Qayyim Al-Jauziyah termasuk ulama yang menguatkan adanya firasat bagi orang mukmin, seperti terlihat dalam karya-karya beliau. Di antara yang beliau katakan adalah, “Barangsiapa yang menjaga dhahirnya dengan mengikuti sunnah, menjaga hatinya dengan muraqabah, menjaga matanya dari yang haram dan mencegah nafsunya dari syubhat dan makan (hanya) dari yang halal, niscaya firasatnya tidak salah.”
Hanya saja, hakikat dan bagaimana terjadinya firasat sangatlah berbeda dengan apa yang dipahami oleh orang-orang yang mempercayai hubungan kedutan dengan peristiwa yang akan terjadi.
Al-Hafizh Al-mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwazhi bi syarh jami’ Tirmidzi, ketika menjelaskan hadits di atas menyatakan: (firasat) bisa memiliki dua pengertian, seerti yang terlihat pada dhahir hadits, yakni ALLAH menyusupkan firasat itu di hati para wali-NYA, sehingga mereka mengetahui kondisi seseorang sebagai bagian dari karomah, atau memiliki ketepatan wawasan, dugaan dan kemantapan. Makna kedua, dia mendaptkan (firasat) itu berdasarkan pengalaman, keadaan, ata perilaku kebiasaan yang dengannya bisa diketahui kondisi manusia.
Para ulama tidak menyebutkan bahwa firasat itu hadir dengan adanya sinyal dari gerakan tubuh tertentu (kedutan), arah angin tertentu atau suara burung tertentu. Bahkan mengaitkan kedutan dengan peristiwa tertentu lebih layak dikatakan tathayyur yang merupakan kesyirikan.
Secara bahasa kata ini berasal darikata thair yang bermakna burung, yakni meramal kejadian berdasar suara burung. Namun pengertian tersebut secara istilah juga mencakup seluruh keyakinan yang mengaitkan peristiwa tertentu dengan tanda tertentu yang secara ilmiah dan syar’i tidak ada kaitannya, lalu hal itu dijadikan acuan untuk melangkah atau mengurungkan suatu perbuatan. Perbuatan ini termasuk syirik. Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Ibnu Amru, “Barangsiapa yang mengurungkan hajatnya karena tathayyur, maka dia telah berbuat syirik.” (HR. Ahmad)
Tak ada hubungannya telinga kedutan dengan orang menggunjingnya di tempat jauh, baik secara ilmiah maupun secara syar’i. sehingga tidak layak kita menjadi sedih karena menunggu musibah yang akan terjadi setelah ada sinyal kedutan, atau mengurungkan niat baik gara-gara kedutan.

Khurafat
Hasil otak-atik orang yang mengaitkan kedutan dengan peristiwa tertentu bisa pula dikatakan khurafat. Karena makna khurafatI berasal dari kata kharaf yang bermakna pikiran yang bingung. Sedangkan secara istilah ada yang mengartikan sebagai dongeng, isu tau rumor yang tidak ada bukti kebenarannya.
Terdapat pula riwayat yang menyebutkan asal-usul khurafat. Aisyah berkata, “Suatu hari Rasulullah SAW bercerita di hadapan para istrinya, lalu salah seorang di antara mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, cerita itu hanyalah khurafat!’ Nabi bertanya, ‘Tahukah kalian apakah khurafat itu? Ada seorang laki-laki dari Udzrah yang ditawan oleh jin pada masa jahiliyah dahulu, lalu orang itu tinggal bersama jin selama berbulan-bulan. Setelah itu dia dikembalikan ke alam manusia, lalu dia bercerita kepada orang-orang tentang peristiwa ajaib yang dialaminya,kemudian orang-orang berkata: ‘Itu cerita khurafat.’’’(HR. Ahmad)
Khurafat bisa juga bermakna suatu keyakinan yang dihasilkan dari rekaan, khayalan, atau otak-atik orang yang mengaitkan kejadian satu dengan yang lain tanpa dasar ilmiah dan syar’iyah. Istilah lain yang mungkin dekat dengan khurafat adlah mitos.
Kedutaan bukan merupakan tanda apa-apa. Apalagi sebab terjadinya bisa dijelaskan secara medis. Kedutan pada kelopak mata misalnya, itu bisa saja terjadi akibat gangguan syaraf pada kelopak mata sehingga otot pada pada kelopak mata berkontraksi secara ritmis, tak ada hubungannya dengan peristiwa yang dialami.
Walaupun terkadang setelah dia kedutan misal di tangan kemudian setelah itu dia menerima duit. Kejadian tersebut hanya kebetulan belaka, yang tidak ada hubungan sama sekali. Bisa jadi dia menerima uang tersebut karena sebelumnya dia bekerja dan mendapat upah, maka pekerjaannya itulah yang menyebabkan dia mendapatkan uang, bukan karena kedutan di tangan.
ALLAH telah memperingatkan untuk tidak menduga-duga suatu perkara ghaib, “Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran.” (QS. Yunus: 36)

Sumber: Ar-Risalah no. 38 Tahun 2004