Dan hanya kepada ALLAH hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maa’idah: 23)

Sebagian masyarakat percaya ada hari dan bulan tertentu yang dijadikan pantangan jika hendak punya ‘gawe’. Bulan Muharram (Suro) misalnya, banyak orang tua menghindari bulan ini untuk menikahkan anaknya. Mithos yang berkembang, menikah pada bulan ini berarti menentang bahaya.


Tak ada bukti ilmiah maupun syari’ah yang menunjukkan sebab akibat antara bulam Muharram dengan bencana. Selain (mungkin) kejadian kebetulan yang sangat kasuistik. Misalnya, ada suami istri yang menikah bulan Muharram lalu bercerai. Padahal tidak sedikit yang menikah di bulan Dzulhijjah (yang dianggap bulan baik untuk menikah), rumah tangganya tidak beres dan berakhir dengan perceraian.
Selain bulan Suro, ada pula yang menghindari acara-acara hari bahagia di hari meninggalnya bapak atau kakeknya. Makanya jangan heran, jika menetukan hari H perkawinan sangat ‘njlimet’ (rumit), karena harus menghindari hari naas keluarga si lelaki dan hari naas keluarga calon pengantin wanita. Orang tua yang terlalu maniak dengan ‘petungan’ (hitungan hari baik), rela mengurungkan atau mengundur pernikahan putrinya berbulan-bulan jika belum mendapatkan hari baik. Seakan mereka menganggap kebanyakan hari adalah buruk.
Orang juga masih mempercayai beberapa hari yang dianggap angker dan membawa tabiat buruk. Misalnya malam Selasa Kliwon dan malam Jumat Kliwon. Sampai-sampai film-film nasional juga tak lepas menyebut-nyebut hari ‘angker’ tersebut.
Menentukan nasib dengan ‘menghitung hari’ tak hanya dianut orang tua yang terbelakang dan kejawen. Kaum remaja dan orang berpendidikan tinggi yang katanya modern, juga tak lepas dari mempercayai ramalan bintang, atau juga Fengshui atau ramalan lain semacam itu.
Tabloid-tabloid hiburan dan koran-koran seringkali memuat tentang ‘nasib anda hari ini’ menurut bintangnya, macam Taurus, Sagitarius, Scorpio dan sejenisnya. Setiap tanggal lahir ada nama bintangnya, lalu diramal nasib, rejeki, asmara dan sebagainya.
Menurut peramal bintang (Astrolog), orang yang lahir tanggal sekian berbintang X, maka hari ini rejekinya seret, ia akan menemui sesuatu yang tidak disukainya, dan bla…bla… Jadi hari lahir dianggap bisa menyebabkan kesengsaraan. Tak pernah ada bukti ilmiah yang membenarkan keterkaitan nama bintang dan nasib orang. Yang ada hanyalah kebetulan, celakanya, orang menganggap bila terjadi musibah atau kerugian atau kesialan itu sebagai bukti kebenaran dari ramalan. Padahal, yang tidak sesuai dengan ramalan itu lebih sering terjadi.
Numerologi hari dipakai pula oleh sebagian orang untuk menentukan hari H peletakan batu pertama atau ketika memulai usaha baru.

Warisan Jahiliyah
Seluruh contoh di atas merupakan warisan jahiliyah yang meyakini bahwa hari dan waktulah yang menyebabkan terjadinya musibah, bencana dan marabahaya.
Ibnu Jarir meriwayatkan, dahulu orang-orang jahiliyah mengatakan, ‘Yang membuat kita celaka hanyalah malam dan siang, dialah yang menghidupkan dan mematikan kita.’ Dan di dalam Al-Qur’an, ALLAH mengisahkan tentang orang-orang jahiliyah tersebut, “Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa”, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.” (QS. Al-Jatsiyah: 24)
Nah, apa bedanya dengan orang jahil zaman ini. Mereka menganggap bahwa bulan tertentu telah menyebabkan bencana, atau hari tertentu adalah hari baik. Ini tak lebih dari sekedar menduga-duga saja.
Tentang kebiasaan jahiliyah ini disebutkan pula dalam hadits qudsi bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ALLAH Ta’ala berfirman, ‘Anak Adam telah menyakiti-KU, dia telah mencela hari padahal AKU-lah (yang menjalankan) hari, di tangan-KU-lah segala urusan. AKU-lah yang menjalankan malam dan siang.” (HR. Muslim)
Imam Syafi’i berkata, “Orang Arab jahiliyah dahulu ketika ditimpa suatu musibah, kesusahan dan bencana mereka mengatakan ‘alangkah jahatnya masa’, mereka mengalamatkan pelakunya adalah masa, lalu mereka mencelanya. Sedangkan yang menjalankan masa itu adalah ALLAH Ta’ala, maka seakan-akan mereka mencela ALLAH.” (Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim, Ibnu Katsir)
Apa bedanya dengan orang jahil hari ini. Ketika ada musibah dalam perkawinan mereka berkata, “Ah, ini gara-gara pernikahan di hari naas.” Dan perkataan yang semisal dengan itu.
Mereka tidak lain hanya menduga-duga, persangkaan yang tidak berdasar.

Menangkal Sial Dengan Ritual Syirik
Bermula dari mengkambing hitamkan hari ketika mendapat musibah, keyakinan yang mengandung syirik itu akan akan berlanjut kepada kesyirikan berikutnya. Seseorang yang menganggap pernikahan atau memulai usaha di hari naas atau hari buruk akan berusaha mencari penangkalnya. Maka ditempuhlah cara-cara syirik. Misalnya ritual ruwatan yang umumnya menggunakan sesaji termasuk sembelihan hewan untuk ‘Caos dahar’ (persembahan) kepada si pembawa bala’. Ada yang menyembelih ayam cemani (ayam yang keseluruhan tubuh dan bulunya berwarna hitam. Atau melakukan puasa-puasa bid’ah, seperti puasa mutih atau puasa pati gheni, dan sejenisnya.
Sesungguhnya, mereka telah terjebak dalam syirik akbar, karena barangsiapa menyembelih untuk dipersembahkan kepada selin ALLAH, maka dia telah berbuat syirik. Bahkan berkorban dengan lalat sekalipun dapat menyebabkan sesorang masuk ke dalam neraka jahanam.
Rasulullah SAW bersabda, “Ada seseorang yang masuk surga karena seekor lalat, dan ada pula yang masuk neraka karena seekor lalat pula.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana hal itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ada dua orang berjalan melewati suatu kaum yang mempunyai berhala, yang mana tidak seorangpun melewati berhala itu sebelum mempersembahkan kepadanya suatu qurban. Ketika itu, berkatalah mereka kepada salah seorang dari kedua orang tersebut. ‘Persembahkanlah qurban kepadanya.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak mempunyai sesuatu yang dapat kupersembahkan kepadanya.’ Merekapun berkata kepadanya lagi, ‘Persembahkanlah, sekalipun seekor lalat.’ Lalu orang itu mempersembahkan seekor lalat dan merekapun memperkenankannya untuk meneruskan perjalannya. Maka dia masuk neraka karenanya. Kemudian berkatalah mereka kepada seorang yang lain. ‘Persembahkanlah qurban kepadanya.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak patut mempersembahkan sesuatu qurban kepada selain ALLAH ‘Azza wa Jalla.’ Kemudian mereka memenggal lehernya. Karenanya orang ini masuk surga.” (HR. Ahmad)