Saya sangat paham dan menyadari bahwa blog saya ini tiap harinya pasti terjadi diskusi dan perdebatan yang mulai dari taraf ringan sampai kelas berat hingga saling menjatuhkan satu dengan lainnya. Saya dan rekan-rekan lain pastinya suatu saat akan terpancing emosi hingga bisa terjadi khilaf dan hal ini tidak sesuai dengan syari’at……..

Berdiskusi memerlukan ilmu agar diskusi atau debat yang kita lakukan tidak berbuah dosa dan kemarahan belaka.Nah pertanyaannya, bagaimana hukum berdiskusi dalam pandangan syariat? ALLAH Ta’ala berfirman yang artinya:

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, dengan nasihat yang baik dan berdebatlah dengan cara yang baik” (QS. An-Nahl [16] : 125)
Pada ayat di atas terdapat lafadz “Jaadilhum” (debatlah mereka) yang merupakan fi’il amr. Dalam kaidah ushul fiqh, hukum asal perintah adalah wajib, kecuali ada dalil yang menyimpangkan hukum wajibnya. Namun dari sini kita bisa menyimpulkan berdiskusi dalam masalah agama adalah masyru’ (disyariatkan). Apakah ada dalil yang menyimpangkan dari hukum wajibnya? Ada. Rasulullah bersabda:
Tidaklah sesat suatu kaum setelah mereka mendapatkan petunjuk kecuali Allah berikan kepada mereka ilmu debat.” ( HR Tirmidzi dari Abu Umamah al Bahily)
Juga dalam hadits lain:
Orang yang paling dibenci Allah adalah yang suka berdebat.” (Muttafaq Alaihi)
ALLAH juga mencela sifat manusia yang gemar berdebat:
Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak mendebat/membantah” ( QS Al Kahfi :54 )
Maka dari dalil-dalil di atas bisa kita simpulkan bahwa berdiskusi dalam masalah dien, pada asalnya adalah boleh, namun kadang bisa menjadi wajib hukumnya, dan kadang bisa menjadi HARAM dan menjadi tanda bahwa orang tsb telah menyimpang.

Lalu, mana yang boleh mana yang wajib dan mana yang haram? Yuk kita tanya ulama…
Imam Nawawi rahimahullahu berkata:
Jika perdebatan tersebut dilakukan untuk menyatakan dan menegakkan al-haq, maka hal itu terpuji. Namun jika dengan tujuan menolak kebenaran atauberdebat tanpa ilmu, maka hal itu tercela. Dengan perincian inilah didudukkan nash-nash yang menyebutkan tentang boleh dan tercelanya berdebat.
Syaikh Ibn Utsaimin (ulama salafy wahabi yang kita hormati) juga menjelaskan:
Pertengkaran dan perdebatan dalam perkara agama terbagi menjadi dua:
Pertama: dilakukan dengan tujuan menetapkan kebenaran dan membantah kebatilan. Ini merupakan perkara yang terpuji. Adakalanya hukumnya wajib atau sunnah, sesuai keadaannya. Berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik” (An-Nahl: 125)
Kedua: dilakukan dengan tujuan bersikap berlebih-lebihan, untuk membela diri, atau membela kebatilan. Ini adalah perkara yang buruk lagi terlarang, berdasarkan firman-Nya:
“Tidak ada yang memperdebatkan tentang ayat-ayat Allah, kecuali orang-orang yang kafir.” (Ghafir: 4)
Dan firman-Nya:
“Dan mereka membantah dengan (alasan) yang batil untuk melenyapkan kebenaran dengan yang batil itu; karena itu Aku adzab mereka. Maka betapa (pedihnya) adzab-Ku.” (Ghafir: 5) 

Jadi, para sahabat dan lawan debat ku yang baik…. Berdiskusilah dengan baik!

Bagaimana?
1. Jangan mencela
Hendaknya kita mengingat kembali nasehat Rasulullah shalallhu’alaihi wasallam:
Setiap muslim itu saudara bagi muslim yang lain. Dia tidak akan menzhaliminya, menghinakannya, dan tidak pula meremehkannya. Keburukan seseorang itu diukur dari sejauh mana dia meremehkan saudaranya” (HR.Muslim dan lainnya)
Dalam hadist lain juga ditegaskan
Mencela seorang muslim itu perbuatan fasiq sedangkan memeranginya adalah perbuatan kufur” (HR.Bukhari dan Muslim)
Dan juga hendaknya kita ingat bahwa setiap perkataan, tulisan kita akan dicatat dan dimintai pertanggung-jawaban
Apapun kata yang terucap pasti disaksikan oleh Raqib dan ‘Atid”. (QS. Qaff : 18)
Nah, yang sering jadi masalah, kadang sulit dibedakan antara mencela dan menasehati….
tidak ada ruginya antum menyimak tulisan wongalusaceh sebagai contoh debat dan diskusi yang sangat buruk untuk dijadikan ibroh di sini

2. Jangan bicara tanpa ilmu
Telah kita ketahui dari dalil-dalil di atas, diskusi yang tercela adalah diskusi tanpa ilmu, meskipun antum merasa di pihak yang benar. ALLAH mencela orang seperti ini:
Di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti setiap setan yang sangat jahat.” (Al-Hajj: 3)
Dan ilmu yang dimaksud tentulah Al Qur’an dan Hadist. Jangan gemar berdiskusi tentang agama kalau antum tidak memiliki pengetahuan hadits dan Qur’an. Yang harus dilakukan orang seperti ini adalah: banyak bertanya.

3. Gunakan bahasa yang baik
Jika kita merasa di atas al haq, merasa di atas ilmu, tunjukkanlah ilmu antum itu telah membuahkan akhlak yang mulia. Buktikan itu dengan bahasa yang baik, sopan. Karena demikianlah akhlak para anbiya dan ‘ulama.
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah swt?” (Al Fushilat : 33)
Jika kita melihat kesalahan pada saudara kita, dan kita memang ingin membuatnya sadar akan kesalahannya, bukankah disini lebih HARUS menegurnya dengan bahasa yang baik?? Bagaimana mungkin seseorang akan tersadar dari kesalahannya jika ia hanya ditahdzir dan dicela saja?

4. Sampaikan saja, jangan memaksa
Jika kita melihat ada saudara kita yang terjerumus ke dalam kesalahan. Maka kewajiban kita adalah menyampaikan. Bukan tanggung jawab kita nantinya ia sadar atau tidak. Apakah kita berharap saudara kita itu sadar setelah di nasehati 1 atau 2 kali? Didalam forum diskusi? Sungguh kewajiban kita hanya menyampaikan, soal hidayah ditangan ALLAH.
Dan jika Kami perlihatkan kepadamu sebahagian (siksa) yang Kami ancamkan kepada mereka atau Kami wafatkan kamu (hal itu tidak penting bagimu) karena sesungguhnya tugasmu hanya menyampaikan saja, sedang Kami-lah yang menghisab amalan mereka” (QS Ar Ra’du: 40)

walau bung jeruk purut atau bung siti jenar tetap ngeyel, kita tidak dapat memaksakan pendapat kita pada mereka sebab hidayah Allah belum sampai pada mereka……….maka………bersabarlah…………….

5. Tidak membalas, bukan berarti kalah
Seringkali ana perhatikan di antara pengunjung disini yang berdebat saling me-reply terus, bantah, dibantah lagi, dan seterusnya. Seolah-olah ia berpikiran “Ah, kalo ga dibantah lagi nanti saya dibilang kalah“. Subhanalloh, tanya lagi pada hati kita tentng tujuan berdiskusi di sini: mau menyampaikan nasehat atau jadi jawara debat? Saya pribadi lebih banyak tidak menjawab tulisan/tanggapan yang masuk yang sekiranya saya anggap akan berakibat “kotornya” hati………. Saya sangat mengapresiasi bung Soegoe yang tidak menanggapi cemo’ohan ki Wali geni dan juga mengapresiasi bung Musafir Ilmu yang tidak menanggapi celaan si dukun wongalusaceh, saya mengapresiasi ketenangan Bung Lukman dan “temannya darno” dalam menjawab tanggapan yang ada yang kadang menyakitkan hati 🙂 . Berhati-hatilah dan bersabarlah kadang ada pengunjung yang memang tidak sehat mentalnya hingga jika terus menerus kita tanggapi tulisannya maka akan sia-sia saja dan jika kita tidak tanggapi bukan berarti kita kalah sebab kita harus menghindar dari mereka yang akan menularkan “sakit hatinya” pada kita, contohnya disini …ada ungkapan “yang waras ngalahakan lebih baik 🙂 daripada menanggapi orang “tidak waras“…..

Maka ana sebagai administrator mengharapakan kerjasama antum semua dalam hal ini. Bila memang ada bahasan dengan diskusi yang sudah keluar dari adab-adab syar’i, kata-kata kurang sopan, banyak nyepam, tolong laporkan, dan tunjukkan buktinya, kutip kalimatnya, laporkan pada admin metafisis pada postingan yang mengandung kata-kata tersebut contohnya perkataan wongalusaceh di sini yang banyak saya delete. Karena Rasulullah mewasiatkan:
Seandainya setiap pengaduan manusia diterima, niscaya setiap orang akan mengadukan harta suatu kaum dan darah mereka, karena itu (agar tidak terjadi hal tersebut) maka bagi pendakwa agar mendatangkan bukti dan sumpah bagi yang mengingkarinya” (HR Baihaqi , hadist hasan)
Bila memang  postingan yang dilaporkan memang telah melanggar batas syar’i, insya ALLAH akan di disikapi dengan pengeditan, penghapusan atau banning komentar/nick name. Sayapun kadang sibuk hingga tidak bisa mengontrol secara penuh setiap tanggapan yang masuk maka diperlukan kerjasamanya.

Atas perhatianyya saya ucapkan terimakasih 🙂