Beberapa kasus gizi buruk yang ditemukan ternyata berada di lingkungan masyarakat dengan tingkat pendidikan yang rendah, sehingga kemunculan kasus gizi buruk di wilayah itu melahirkan berbagai anggapan yang salah.

Anggapan yang paling banyak berkembang di tengah masyarakat Kalimantan menyikapi kasus gizi buruk itu adalah anak diganggu setan, yang disebut setan buyu.

Setan buyu bukan saja menganggu anak sehingga anak sering menangis tetapi juga mengisap darah anak, akibatnya anak mengalami kurus kering, makanya bila ditemukan anak kurus kering dan pucat sudah lumrah dikatakan akibat diisap buyu.

Akibat anggapan demikian, maka seringkali si anak yang menderita gizi buruk ini bukannya diobati ke rumah sakit atau puskesmas melainkan di bawa ke dukun atau mendatangkan orang pintar ke rumah.

Seringkali pengobatan anak ini dengan berbagai cara antaranya memasukkan anak ke dalam tangguk (alat menangkap ikan) atau si anak dimasukan ke jala, bahkan anak ada pula yang di “dadang” (dipanasi dengan mendekatkan bayi ke api) dengan bahan bakar api menyala terbuat dari daun pisang kidung kering. Ada juga di mandikan di dalam rinjing (wajan. pent).

Atau si anak di saat senja di bawa ke depan pintu rumah, lalu si dukun menyemprotkan air berkali-kali ke badan anak, maksudnya mengusir roh jahat yang menggangu anak.

Berdasarkan anggapan salah demikian akhirnya anak tidak memperoleh perawatan yang cukup, apalagi di ibu anak biasanya memperoleh pelajaran salah pula dari nenek moyang terdahulu, dimana seusai melahirkan begitu banyak pantangan makanan untuk segera dihindari.

Karena bila pantangan itu dilanggar, maka di ibu bayi yang baru melahirkan akan menderita penyakit “mauk” (penyakit kepala pusing-pusing dan muntah).

Akibat anggapan demikian maka banyak ibu yang baru melahirkan di beberapa pemukiman masyarakat pinggiran Kalsel itu hanya mengkosnumsi nasi ditambah dengan satu iris “garih” (ikan kering gabus) yang dibakar serta sayuran atau lalapan dari tanaman gulma yang disebut warga setempat “kasisap.”

Tanaman kasisap yang biasa tumbuh di depan rumah penduduk ini dianggap memiliki khasiat untuk menghentikan pendarahan, dan mengobati penyakit mauk demikian.

Paling berani ibu baru melahirkan itu hanya mengkonsumsi sebutir telur ayam kampung dan sama sekali tak berani mengkonsumsi ikan segar apalagi daging binatang, padahal di sekeliling rumah warga biasanya kawasan berawa-rawa atau sungai yang terdapat banyak ikan.

Sementara aneka sayuran juga begitu banyak tumbuh, seperti kangkung, genjer, daun singkong, katu, keladi (talas) bungkul pisang, umbut kelapa, umbut aren, rebung (bambu muda), ubi-ubian, hingga kacang-kacangan yang sebenarnya bisa menambah gizi si ibu yang baru melahirkan tersebut.

“Bagaimana bayi yang baru lahir mau sehat bila disusui ibu yang kurang gizi demikian, akhirnya bayi tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sama sekali tidak sehat, yang kemudian mengalami kurang gizi berkepanjangan yang disebut sebagai penderita Isap Buyu.” kata seorang petugas kesehatan saat memeriksa seorang balita kurang gizi di wilayah Banua Enam (kawasan utara Kalsel).

Melihat kenyataan itulah berbagai kalangan mengharapkan semua pihak, khususnya petugas kesehatan untuk memberikan penyuluhan dan bimbingan untuk menghindari berbagai anggapan salah , sekaligus mensosialisasikan pentingnya gizi bagi pertumbuhan ibu dan anaknya.

Tindakan yang mungkin segara bisa dilakukan dalam upaya penyuluhan kesehatan itu adalah menghidupkan kembali kegiatan Posyandu.

Guna menarik minat ibu hamil dan warga yang memiliki anak balita untuk datang ke pusat pelayanan terpadu tersebut perlu dilakukan pancingan seperti dengan memberikan “door prize” atau hadiah khusus.

Bila warga sudah memahami dan mengerti begitu pentingnya arti gizi yang bersumber dari makanan apa saja tidak mesti mahal, maka kasus gizi buruk yang sebenarnya memalukan itu bisa dihilangkan di bumi Kalsel ini.

——————————————

Sumber:http://hasanzainuddin.wordpress.com/2008/03/10/isap-buyu-anggapan-salah-kian-merebaknya-gizi-buruk-kalsel/