Oleh: Ali Akbar bin Agil

ADA yang berbeda dalam peringatan hari jadi Nahdhatul Ulama ke-85 yang puncaknya diadakan di Stadion Gelora Bung Karno beberapa waktu silam. Hal yang menarik adalah PBNU memberikan restu kepada Gerakan Pemuda (GP) Anshar mendirikan satuan Detasemen Khusus (Densus) 99. Angka 99 diambil dari jumlah sifat Allah dalam Asmaul Husna.

Tujuan pembentukan Densus ini, seperti dilansir situs resmi PBNU, untuk menangkal gerakan Islam garis keras dan melindungi akidah Ahlus Sunnah Wal Jama`ah dari kelompok yang mudah mengafirkan umat Islam lainnya.

“Densus 99 sebagai upaya pencegahan terhadap kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama dan melakukan radikalisme aqidah. Densus 99 akan menswepping tempat ibadah khususnya masjid, mushalla dan sekolah yang diindikasikan mengajarkan agama dengan cara kekerasan,” ujar Nusron seperti dikutip nu.or.id

Nusron Wahid Ketua GP Anshar ini dengan bangga juga memberikan penjelasan soal kemampuan yang dimiliki personel Densus ini di antaranya mempunyai ilmu kebal, seni bela diri, dan dibekali kemampuan menjinakkan bom.

Sambutan hangat mengalir dari Ketua Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyad Mbai. Kata Ansyad, “Yang paling penting secara politis itu pesan penting kepada teroris bahwa masyarakat sudah benci, sudah muak dengan kelakuan mereka. Itu yang penting. Itu pesan yang saya lihat paling penting dari munculnya Detasemen 99.”

***

Dalam sejarahnya, kelahiran GP Anshar telah memberikan konstribusi luar biasa baik sebelum maupun sesudah kemerdekan Republik Indonesia. Mereka berada di garda terdepan dalam mempertahankan NKRI. Mereka juga aktif terlibat dalam memberikan perlindungan dan menjadi pengawal dakwah para ulama dan Kiai di Nusantara.

Sayangnya, belakangan Anshar mengalami perubahan yang cukup fundamental dalam arah perjuangannya. Anshar –dalam hal ini Banser– malah terlibat aktif memberikan perlindungan kepada Kaum Nashrani saat merayakan hari raya Natal ketimbang aktif melakukan advokasi dan pembelaan sebagaimana mestinya kepada umat Islam di Ambon dan Poso yang mengalami kekerasan fisik dan psikis dari kaum Kristen radikal.

Kelahiran Densus 99 yang entah mengapa mendapat restu dari PBNU seolah telah menyulut ketegangan dan sikap saling curiga di antara umat Islam. Banyak pihak menengarai adanya rekayasa di balik proyek perang melawan terorisme yang salah satu caranya mengadu domba di kalangan internal kaum Muslimin lewat kelahiran Densus 99.

Pada titik tertentu kita bisa sepakat bahwa aksi kekerasan atas nama apapun tidak boleh dibiarkan. Persoalannya adalah apakah pembentukan milisi ala Densus 99 sudah sedemikian dibutuhkan untuk menanggulangi aksi terorisme? Ataukah ada agenda politik yang melahirkannya? Bukankah kekerasan tidak pernah selesai jika dibalas dengan hal yang sama terlebih jika dilakukan oleh pihak yang tidak mempunyai wewenang?

Banyak dampak buruk yang akan muncul seiring lahirnya Densus 99 dari kalangan sipil ini. Dampak yang paling buruk adalah konflik horizontal. Tidak lucu jika aksi pengeboman yang terjadi di beberapa tempat justeru diarahkan ke kantor NU dan organisasi di bawah naungannya.

Para “teroris” akan beranggapan bahwa Densus 99 merupakan kepanjangan Densus 88 yang mereka anggap telah murtad dan halal darahnya. Adu domba seperti inilah yang sangat mengkhawatirkan kita semua. Saling baku pukul dan hantam sesama umat, saling membunuh di antara warga sipil, saling menghancurkan tempat dan rumah peribadatan umat Islam sendiri.

Bagaimana mungkin, hanya berbekal fakta bahwa seseorang memelihara jenggot, bercadar, bercelana cingkrang, tidak mau hormat bendera, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, maka sah untuk melakukan razia kepada mereka? Inilah bencana akibat Densus 99 yang mungkin terjadi.

Hal lain yang perlu kita sampaikan adalah bahwa Rasulullah Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan ilmu kebal dan puasa selama empat puluh hari sebagai upaya mengisi kekebalan pada tubuh.

Dalam sejarahnya, Rasulullah dan para sahabatnya tidak luput dari sabetan pedang, timpukan batu yang mengakibatkan darah mengucur bahkan banyak di antara para sahabat beliau yang wafat. Nabi Zakaria pun harus merenggang nyawa oleh gergaji kaumnya sendiri.

Para Mujahidin di sepanjang perjuangan jihadnya tidak menang jihad melawan musuh-musuh Islam dengan ilmu kebal atau diisi mantera tertentu lewat bantuan jin dan sebagainya. Dan itulah jihad yang dilakukan di masa lalu dan itu pula yang dilakukan oleh para pahlawan bangsa ini dalam melawan dan mengusir penjajah dari negeri ini.

Melihat dampak buruk yang lebih banyak daripada manfaatnya, sudah saatnya pengurus pusat NU berpikir ulang untuk meneruskan “proyek” Densus 99 ini.
Akan menjadi lebih baik, jika upaya menanggulangi terorisme dilakukan lewat jalur pendidikan di pesantren, sekolah, penulisan buku-buku yang berisi wejangan dan arahan para ulama tentang jihad yang sesuai dengan tuntunan al-Qur`an dan Sunnah.

NU merupakan asset bangsa yang sangat berharga yang dimiliki bangsa ini. Kita tidak ingin NU terseret dalam kepentingan “perang melawan terorisme” yang dikomandoi Amerika yang mengorbankan Umat Islam itu sendiri. Wallahu A`lam Bis Shawaab.

Penulis adalah staf pengajar di Pesantren Darut Tauhid, Malang

lihat artikel lainnya tentang Kesesatan Densus 99 di

https://metafisis.wordpress.com/2011/07/22/menyikapi-pamer-kesaktian-ilmu-kebal-densus-99/

https://metafisis.wordpress.com/2011/07/19/berbekal-ilmu-kebal-densus-99-bantu-kepolisian-lawan-terorisme/