“Jika salah satu dari kalian shalat dengan menghadap ke sutrah (sesuatu yang bisa menghalanginya dari manusia), lalu ada seseorang yang ingin lewat di hadapannya, hendaknya ia menghalanginya. Bila ia bersikeras ingin lewat, hendaknya ia memeranginya karena dia itu setan.” (HR. Bukhari no. 487 dan Muslim no. 505)

Demikian Nabi صلى الله عليه وسلم memberikan pelajaran kepada para shahabatnya.

Dalam sabda beliau di atas terdapat beberapa kandungan hukum:

1.Dianjurkannya shalat menghadap sutrah.

Hal ini berdasarkan sabda beliau di atas: “shalat dengan menghadap sutrah (sesuatu yang bisa menghalanginya dari manusia).”

Dan ini ditegaskan dalam hadits lain:

“Janganlah kamu shalat kecuali menghadap sutrah dan jangan biarkan seorang pun lewat di hadapanmu. Jika ada yang ngotot ingin lewat, perangilah ia. Karena sesungguhnya ada setan bersamanya. ” (HR. Ibnu Khuzaimah no. 800)

Sutrah adalah sesuatu yang dijadikan tanda, apa pun bentuknya, yang menunjukkan bahwa ada orang yang sedang mengerjakan shalat, guna mencegah orang melintas di depannya .

Sutrah itu bisa berupa sesuatu yang ditancapkan dan dipancangkan seperti tongkat, tombak dan semisalnya. Atau bisa juga sesuatu yang sudah tegak dengan sendirinya seperti dinding atau tiang atau orang.

Lantas berapa batas minimal tinggi sutrah itu? Rasulullah صلى الله عليه وسلم ditanya demikian, beliau pun menjawab, “Seperti tinggi pelana onta”(HR. Muslim no. 500)

Imam Ash-Shan’ani menjelaskan bahwa itu kurang lebih dua pertiga hasta.

2. Lewat di hadapan orang shalat adalah sesuatu yang terlarang dan diharamkan.

Hal ini berdasarkan perintah beliau صلى الله عليه وسلم di atas: “hendaknya ia menghalanginya.” Seandainya itu sesuatu yang dibolehkan dan tidak haram, tentu Nabi صلى الله عليه وسلم tak akan memerintahkan orang yang shalat untuk menghalangi orang yang akan lewat di hadapannya.

Bahkan dalam hadits lain disebutkan ancaman lain bagi orang yang melakukannya. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda, “Seandainya orang yang lewat di hadapan orang shalat mengetahui dosa yang akan ia dapatkan, pastilah menunggu selama empat puluh lebih baik baginya daripada lewat di depannya. ”

Abu Nadhr (perawi hadits ini) berkata, “Aku tidak tahu apa maksud beliau: apakah 40 hari? 40 bulan? Atau 40 tahun? ” (HR. Bukhari no. 488 dan Muslim no. 507)

3. Lewat di depan orang shalat merupakan perkara yang diharamkan jika terpenuhi padanya dua syarat:

a) Jika yang shalat itu sendirian, bukan sebagai makmum dalam shalat berjamaah. Hal ini berdasarkan sabda beliau di atas: “Jika salah satu dari kalian”. Karena itu, jika yang shalat adalah seorang makmum, maka tak mengapa lewat di depannya. Karena dalam hal ini, sutrahnya makmum ada pada imam. Imam Bukhari menulis dalam kitab Shahihnya: Bab sutrahnya imam adalah sutrah bagi orang yang ada di belakangnya.

Beliau lalu membawakan hadits Ibnu Abbas رضي الله عنهما. Ia berkata, “Aku datang dengan menunggang keledai betina sedangkan aku ketika itu menjelang baligh sementara Rasulullah sedang shalat mengimami manusia di Mina dalam keadaan tanpa menghadap dinding . Aku pun lewat di hadapan sebagian shaf, lalu aku turun dari keledai tersebut dan aku membiarkannya pergi merumput. Kemudian aku masuk (bergabung) ke dalam shaf. Tak ada seorang pun yang mengingkari perbuatanku itu.” (HR. Al-Bukhari no. 471)

Karena itu, jika Anda menjadi makmum dalam shalat berjamaah dan tiba-tiba shalat Anda batal, entah karena buang angin atau hal lainnya, lalu Anda ingin berwudhu, tak usah malu dan ragu melewati para makmum. Karena itu sesuatu yang dibolehkan dan bukan perbuatan dosa.

b) Jika yang shalat itu menghadap sutrah.

Hal ini berdasarkan sabda beliau di atas: “dengan menghadap ke sutrah”. Karena itu, tak mengapa dan tak berdosa melintas di depan makmum yang tidak menghadap ke sutrah, BILA melewatinya di luar jangkauan tangannya (orang yang shalat). Adapun bila ia melewatinya kurang dari itu, yakni masih dalam jangkauan tangan orang yang shalat, maka yang demikian itu tidak diperbolehkan. (Syarh Shahih Muslim: 4/223)

4. Dianjurkan bagi orang yang shalat menghalangi orang yang akan lewat di hadapannya.

Hal ini berdasarkan sabda beliau di atas: “Hendaknya ia menghalanginya.” Karena itu, bagi orang yang shalat jangan sampai membiarkan ada yang lewat di hadapannya, baik itu pria maupun wanita, orang tua maupun muda. Sekalipun itu sesosok bayi! Bahkan, sekalipun itu binatang!

Suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم sedang shalat, sekonyong-konyong seekor kambing akan lewat di hadapan beliau. Beliau pun segera maju ke depan mendahului kambing itu sampai perut beliau menempel di dinding sehingga kambing itu pun lewat di belakang beliau صلى الله عليه وسلم. (HR. Ibnu Khuzaimah no. 827 (2/19) )

5. Lewat di depan orang yang shalat adalah perbuatan setan.

Hal ini berdasarkan sabda beliau di atas: “karena dia itu setan.”

Bahkan, pernah setan ingin melakukan itu di hadapan Nabi صلى الله عليه وسلم.

Suatu hari Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengimami sholat wajib. Tiba-tiba beliau terlihat mengepalkan tangannya. Seusai sholat para shahabat bertanya “Wahai Rasulullah, apakah terjadi sesuatu ketika sholat tadi?” Beliau menjawab “Tidak, hanya saja setan hendak lewat di depanku. Maka aku pun mencekiknya sampai terasa dinginnya lidah dia di tanganku. Demi Allah, seandainya saudaraku, (Nabi) Sulaiman tidak mendahuluiku, niscaya akan aku ikat setan itu pada sebuah tiang masjid sehingga dapat dilihat anak-anak kecil penduduk Madinah.” (HR Ad-Daruquthni no. 15(1/365) dan Ath-Thabrani no.2053(2/251) dalam Al-Mu’jamul Kabir).

Maka, jangan tiru setan! Sungguh, ia itu musuh kita yang sangat nyata.

“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh kalian, maka anggaplah ia sebagai musuh. Sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. ”(QS. Fathir: 6)

Jakarta, 15 Ramadhan 1432/15 Agustus 2011

Referensi:

1. Fathulbari karya Al-Hafizh Ibnu Hajar

2. Syarh Shahih Muslim karya Imam An-Nawawi

3. Subulussalam karya Imam Ash-Shan’ani

4. dan lain-lain

source :

http://anungumar.wordpress.com/2011/08/15/setan-lewat-di-depan-orang-shalat/