Depok empat tahun yang lalu di suatu malam tatkala shalat Isya berjamaah di masjid pondok. Ketika itu shalat baru saja dimulai dan imam sedang membaca surat setelah Al-Fatihah. Tiba-tiba terdengar suara keras,  “Bruk” seperti suara barang berat yang jatuh ke tanah. Suara apa ini? Saya kaget.  Ah,  peduli amat, saya lagi shalat, itu nggak penting. Itu yang ada di pikiran saya. Saya berusaha mengacuhkannya. Saya pun meneruskan kembali konsentrasi pada bacaan imam.

Tatkala selesai shalat, banyak teman-teman yang berkerumun di kamar DKM yang berada di samping mesjid. Saya bertanya-tanya, ada apa mereka berkumpul. Setelah mendekat dan memasuki kamar itu, saya lihat ada seorang teman, sebut saja Wawan(nama samaran), sedang berbaring lemah di lantai. “Ada apa ini? “ Saya bertanya kepada teman yang berada di samping saya. Ia menjawab, “Wawan tadi jatuh waktu shalat. “ Astaghfirullah, ternyata suara keras tadi itu suara jatuhnya Wawan, ia jatuh tersungkur di shaff kedua ketika shalat baru saja dimulai!

Ada apa sih dengan Wawan? Sudah beberapa hari belakangan ia seperti tidak fit. Apakah ia sakit?  Wawan sebenarnya remaja yang sehari-harinya periang dan ceria, tapi belakangan ini entah kenapa seperti pemurung dan banyak menyendiri. Yang membuat aneh itu, ketika saya atau teman-teman berpapasan dengannya di jalan lalu mengucapkan salam kepadanya, ia tak menjawab, atau menjawab tapi dengan suara yang sangat lirih. Dan yang lebih “aneh” lagi, wajahnya itu lho, kurang bersahabat. Entah apa namanya, jutek atau apa, yang jelas tidak sedap dipandang!

Lantas apakah jatuhnya ia sekarang ini (dalam shalat) adalah puncak dari sakitnya? Mungkin saja. Tapi, adakah yang ganjil dalam kejadian ini? Saya coba berpikir, dan aha.., bukankah imam ketika shalat tadi membaca surat Al-Jin? Apakah ini pertanda ada “sesuatu” pada Wawan? Jangan-jangan…

Saya bersama teman-teman melapor kepada imam tadi yang juga ustadz dan juga pengajar kami di pondok. Setelah mendengar penuturan kami, beliau pun memerintahkan kami untuk meruqyah Wawan. Selepas isya dan setelah makan malam, mulailah Wawan diruqyah. Hampir beberapa jam lamanya, tak ada reaksi apa-apa. Entah sampai jam berapa ruqyah itu berlangsung, yang jelas malam sudah sangat larut. Ruqyah pun dihentikan dan akan dilanjutkan besok harinya.  Kami pun beranjak ke tempat tidur masing-masing.

Keesokan harinya, selesai shalat subuh, ketika hari mulai terang atau sudah terang, dimulailah ruqyah “jilid dua”. Setelah beberapa lama membaca Al-Quran dari berbagai surat, belum muncul juga reaksi dari Wawan. Mengingat lama dan panjangnya ruqyah dan belum juga ada tanda-tanda jin itu akan berbicara, saya menduga, mungkin saja ada keraguan di pikiran sebagian teman  yang meruqyah ketika itu, “Apa iya Wawan kesurupan? “

Meskipun begitu, itu tak menyurutkan semangat  Sail (nama samaran),salah seorang teman saya yang ikut meruqyah. Ia memang “tukang ruqyah“,  selalu ikut meruqyah kalau ada orang yang kesurupan di sekitar pondok atau di luar pondok jika ada yang meminta bantuan untuk diruqyah. Ia sepertinya punya “analisis” tersendiri tentang Wawan. Dia tetap melanjutkan ruqyah meskipun teman-temannya sudah “putus asa” dengan keadaan Wawan ini. Dan ternyata, subhanallah, dengan izin Allah, buah dari keteguhannya mulai tampak. Muncul  tanda-tanda “aneh” pada diri Wawan. Ia mulai terlihat gelisah dan nafasnya mulai tak beraturan.

Melihat “keanehan “seperti itu, teman-teman mulai memegang tubuh Wawan, karena mungkin saja jin yang ada di tubuhnya nanti bereaksi. Dan ternyata, benar saja, tidak berapa lama kegelisahan Wawan memuncak seakan-akan hendak berontak. Sail yang memang pembawaannya tenang, tidak terprovokasi oleh keadaan seperti itu. Ia tetap tenang memperhatikan kondisi Wawan. Dan ketika itulah ia melihat ada sesuatu yang aneh pada badan Wawan. Ia melihat seperti ada yang bergerak di balik baju Wawan. Seperti tikus atau anak tikus tapi lebih kecil darinya. Dan itu disaksikan oleh semua atau sebagian besar teman-teman yang meruqyah.

Sail pun berusaha menangkap “makhluk aneh” itu. Ketika ia bergerak di arah perut , Sail berusaha menangkapnya, tapi ia lolos. Sail terus mengejarnya. Sampai ketika ia “terdesak” di leher, tangan sail pun berhasil menangkap “makhluk aneh” itu. Dan saat itulah raut muka Wawan jadi tampak mengerikan. Mungkinkah jinnya berbicara? Sail bertanya kepada Wawan, “Siapa kamu? “ Ia menjawab, “Adi.” Ternyata jin itu sudah mulai berbicara melalui lisan Wawan. Sail bertanya lagi, “Kenapa kamu masuk ke tubuh Wawan? “ Jin itu menjawab, “Dulu waktu di Garut ia mengundang saya (dalam permainan Jaelangkung) tapi nggak mengantarkan saya pulang lagi. “ Setelah mendengar pengakuannya, Sail memintanya secara baik-baik untuk keluar dari jasad Wawan. Ia pun menuruti. Maka berakhirlah drama ruqyah ini.

Setelah jin itu keluar, Wawan pun siuman kembali. Wajahnya terlihat lebih cerah dibandingkan ketika sebelum diruqyah. Orang lain yang tidak mengetahui kejadian ini, kalau melihatnya pun mungkin tak mengira kalau ia baru saja “sakit”. Teman-temannya iseng bertanya kepadanya, “Kenal Adi nggak? “ Wawan seperti kebingungan, “Adi mana? “ Mereka menjawab, “Adi Garut. ” Ia tetap bingung. Mereka bertanya lagi, “Kamu pernah main jaelangkung ya, waktu di Garut?” Ia kaget, “Lho, kok tau? “ tanyanya. lalu Ia diberitahu bahwa jin yang masuk ke jasadnya lah yang mengabarkan itu kepada mereka. Ia pun terheran-heran.

Dari kisah di atas ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik:

1. Jangan gampang suuzhan dan tergesa-gesa menghukumi orang yang “bermasalah”.

Kalau kita mau pakai zhan saja dan terlanjur emosi, mungkin kita akan menganggap Wawan itu sosok yang sombong dan angkuh. Bagaimana tidak, disalami tidak jawab. Berpapasan dengannya, ia tampil jutek. Akan tetapi siapa sih yang menyangka ternyata ia sebenarnya dalam pengaruh jin ketika itu? Padahal kalau melihat kesehariannya sebelum “sakit”, ia anak yang ramah dan tidak mempunyai masalah dengan santri-santri yang lain.

Makanya ada yang bertanya kepadanya setelah sembuh, “Eh, kamu kok waktu ana salami, nggak mau jawab sih? “ Ia menjawab, “Waktu itu seperti ada yang mencengkram leher saya, makanya kaku rasanya untuk gerak (dan ngomong.) “ Karena itu, kalau kita mendapati orang yang ramah dan periang tiba-tiba berubah menjadi sangar dan jutek, jangan suuzhan dulu mungkin dia sedang “sakit” dan ada “penghuni” di tubuhnya. Berbeda dengan orang yang kesehariannya terlihat sangar dan jutek. Kalau ini lain lagi ceritanya. Mungkin saja dari sononya ia “sakit” , cobalah sekali-kali bawa dia ke rumah sakit.

2.  Adakalanya jin itu benar dan tidak berdusta.

Jin jahat dan kafir itu kadang berkata benar walaupun ia sebenarnya pendusta. Seperti yang diberitakan dalam hadits yang populer di tengah-tengah kita yaitu kisah tentang Abu Hurairah رضي الله عنه dengan syaithan yang mencuri zakat. Syaithan itu mengajarkan tentang keutamaan ayat Kursi kepadanya.   Ketika itu disampaikan kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم beliau pun bersabda, “Ia (dalam hal ini) benar, padahal ia pendusta! “

Begitu pula dalam kasus di atas. Jin yang masuk ke tubuh Wawan mengabarkan tentang apa yang dilakukan Wawan sebelumnya yaitu bermain jaelangkung, dan ternyata kejadian itu dibenarkan oleh Wawan. Meskipun begitu, kita tetap harus hati-hati dalam menerima perkataan jin, jangan mudah percaya kepadanya, karena bisa saja ia berdusta (dan itu kebanyakannya), lalu menipu dan mengadu domba antara muslimin atau membuat kerusakan lainnya.

3. Jin itu bisa menjerumuskan orang menuju kesyirikan.

Sepintas bermain jaelangkung sesuatu yang sepele, padahal itu adalah kesyirikan. Karena disukai atau tidak, dengan bermain itu otomatis memberikan pengakuan bahwa jin yang diundang itu mengetahui yang gaib: mengetahui jodoh dan lain-lain, padahal tidak ada yang mengetahui yang gaib kecuali Allah. Maka tak pelak lagi ini adalah suatu kekufuran dan kesyirikan.

“Siapa yang mendatangi kahin (dukun,  paranormal dan orang “pintar”)kemudian membenarkan apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad . “ (HR. Abu Daud) Kalau membenarkan mereka yang notabene adalah budak  jin dan syaithan saja terancam kekufuran, lantas bagaimana kalau yang dibenarkan adalah “bos”  mereka? Maka berhati-hatilah!

Jakarta, 10 Dzulhijjah 1431/16 November 2010

source: http://anungumar.wordpress.com/2010/11/21/temanku-jadi-jutek/