Assalamu’alaikum wr.wb.

Allah berfirman, bismillahirrahmaanirrahiim, ” Dan berapa banyak binatang yang tidak membawa rizkinya sendiri. Allahlah yang memberi rizki kepadanya, dan kepadamu, dan Dia maha mendengar lagi maha mengetahui. Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka : Siapakah yang menjadikan langit dan bumi, dan menundukkan matahari dan bulan ? Tentu mereka akan menjawab : Allah. Maka betapakah mereka dipalingkan (dari jalan yang benar). Allah melapangkan rizki bagi siapa yang dikehendakiNya di antara hamba- hambaNya, dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu “ (QS Al Ankabuut 60-62).

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan pada dirimu melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah, agar kamu jangan berduka cita terhadap yang luput darimu, dan agar kamu jangan terlalu senang terhadap apa yang dianugerahkanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri, (yaitu) orang-orang yang kikir dan menyuruh manusia berbuat kikir. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dialah yang maha kaya lagi maha terpuji ” (QS Al Hadiid 22-24). “Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) mendatangkan mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, maka jika begitu sesungguhnya kamu termasuk orang-orang dzalim. Jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia (Allah). Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagimu, maka tidak ada yang dapat menolak karuniaNya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendakiNya di antara hamba-hambaNya dan Dialah yang maha pengampun lagi maha penyayang “ (QS Yunus 106-107).

Maha benar segala firman Allah, tiada Tuhan yang wajib disembah kecuali Allah yang maha esa dan tiada sekutu bagiNya. Segala puji dan ungkapan rasa syukur hanya bagi Allah atas segala anugrahNya yang berlimpah ruah terhadap makhlukNya di bumi. Begitu banyaknya nikmat yang diberikan Allah kepada makhlukNya, tak terhitung jumlahnya. Dan jika kamu mengkalkulasi nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan dapat mengetahui jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar maha pengampun lagi maha penyayang. Dan Allah mengetahui segala apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan (QS An Nahl 18-19).

seorang wartawan sebuah media cetak di Yogyakarta melaporkan hasil penulusurannya dalam meliput kegiatan ritual di Gunung Kemukus, Boyolali, Jawa Tengah. Dari kota Surakarta ke utara mengikuti jalan beraspal menuju arah Purwodadi. Sampai di Gemolong, kurang lebih 20 kilometer dari Surakarta, ada jalan ke kiri yang tidak beraspal (pada waktu itu) dengan gapuranya yang sederhana bertuliskan obyek wisata Gunung Kemukus. Mengikuti jalan tersebut dengan naik ojek sepeda motor akan langsung sampai pada suatu tempat di kaki sebuah bukit. ( Waktu itu sebagian jalannya belum terendam air, tapi sekarang hanya sampai pada tepi waduk Kedungombo, dilanjutkan dengan perahu penyebrangan).

Malam itu, dari kaki bukit sudah ramai dipenuhi orang, baik para pengunjung dari berbagai tempat yang hendak berziarah, maupun penduduk setempat yang berjualan, termasuk anak-anak belasan tahun yang membawa tikar untuk disewakan kepada para pengunjung. Dengan menaiki anak tangga, makin ke atas semakin ramai dan sampailah ke sebuah komplek kuburan yang cukup terang.

Menurut cerita di tempat itu dikuburkan seorang pangeran dari keraton Surakarta (Pangeran Samodra) ? dan kekasihnya dalam satu lubang, sehingga bagi para pengunjung yang berziarah ke tempat iru, agar hajatnya terkabul maka sesudah berziarah, katanya dianjurkan untuk melakukan hubungan sex dengan bukan istri atau suaminya di sekitar kuburan tersebut.

Di pintu masuk kuburan tersebut, sang wartawan tadi ketemu seorang wanita berusia sekitar 35 tahun, seorang pedagang di Pasar Bulu Semarang (tidak disebutkan status wanita itu apakah masih berkeluarga, lajang atau janda), yang baru keluar dari komplek kuburan. Dari penuturan wanita itu, ia datang ke tempat itu bukan yang pertama kali. Katanya sejak datang ke tempat ini, jualannya makin laris, sehingga ia datang lagi sebagai ungkapan terkabul hajatnya. Dan kemudian wanita itu mengajaknya berzina dengan wartawan tersebut, namun ditolaknya dengan halus, karena niatnya untuk menulusuri cerita orang- orang tentang acara ritual Gunung Kemukus yang asoy itu.

Namun diam-diam ia ikuti dari jarak tertentu kemana perginya wanita itu dengan seorang lelaki lain yang ditemuinya. Ternyata mereka berdua melaksanakan hajatnya dengan melampiaskan nafsu syahwatnya di sekitar komplek kuburan yang cukup gelap di bawah pepohonan, dengan beralaskan tikar yang disewa dari seorang anak. Dan di sekitar tempat itu bukan hanya satu pasang saja yang sedang bergulat, tetapi cukup banyak pasangan. Benar-benar sebuah pesta syetan. Astaghfirullah. Dan wanita yang ditemuinya tadi dari penuturan wartawan tersebut, pada malam itu ternyata sampai tiga kali melakukan ritual yang diteruskan perzianaan dengan berganti laki-laki, ….. bukan main.

Hingga kini ritual Gunung Kemukus tetap ada, masih dilestarikan oleh pemda setempat sebagai tujuan wisata, namun katanya sekarang banyak dimanfaatkan oleh para wanita PSK menjajakan diri. Ada lagi cerita tentang seorang pedagang bakso, yang menggunakan jimat penglaris yang diperoleh dari “orang pinter”, sesuatu barang yang dipesankan agar dimasukkan ke tempat kuah bakso setiap hari seraya membaca mantra khusus, dan ia harus datang lagi ke “orang pinter itu” setiap 40 hari sekali. Si tukang bakso itu menurut saja segala pesan dari “orang pinter” tersebut. Sesampai di rumah, tukang bakso itu membuka bungkusan barang yang diperoleh dari “orang pinter” tersebut, ia terperangah, karena setelah dibuka, ternyata barang itu berupa celana dalam bekas pakai.

Tetapi karena ingin laris jualannya, ia tidak peduli dan siap menjalankan perintah. Hasilnya memang luar biasa, pembeli setiap hari datang berjubel, bahkan mereka rela untuk mengantri. Dan keadaan seperti itu berlangsung cukup lama, sampai suatu ketika, pada saat jualannya mau tutup, ada seorang pembeli baksonya seraya minta tetelan daging yang ada dalam kuah bakso. Ketika tukang bakso itu mengambil tetelan daging dari tempat kuah bakso, tanpa disadari “jimat celana dalamnya” ikut terangkat. Pembeli itu melihatnya dan langsung mual perutnya seraya ngeloyor pergi.

Sejak kejadian itu, beritanya tersebar kemana-mana dan omsetnya turun drastis, dan akhirnya ia gulung tikar. Kisah lain lagi, seorang ikhwan pernah menelusuri jalan di Jakarta Timur. Sepanjang kanan dan kiri jalan itu berderet pertokoan. Kemudian ia tertarik saat melihat sebuah toko yang menyediakan jasa photo copy dengan nama salah satu nama gunung di pulau Jawa. Suatu saat ia mampir ke toko tersebut, kemudian ia mendongakan kepalanya ke atas, sedikit kaget melihat ada jimat tergantung di dinding atas.

Jimat penglaris itu luarnya bertuliskan huruf berbahasa Indonesia yang sudah agak buram tulisannya, tapi ia masih bisa membacanya, dan tulisan itu berbunyi : Dari Pesarean Gunung Kawi. Cerita lain lagi dari Yogyakarta, seorang pengusaha kayu ketika omset usahanya mulai turun, ia memilih jalan pintas dengan mendatangi beberapa praktek perdukunan, dengan harapan bisnisnya meningkat. Jimat demi jimat ia kumpulkan, bahkan ia pernah bertapa di kuburan yang dianggap keramat, namun usahanya dari hari ke hari tetap saja sepi, bahkan bertambah turun omsetnya, sehingga ekonomi keluarganya mulai keteteran. Pada saat demikian, bertambah pula persoalan yang dihadapinya, sehingga ia makin stress. Ternyata istrinya yang selama ini sangat dicintainya, telah berbuat serong dengan salah satu karyawannya.

Sehingga pengusaha kayu tersebut makin tidak karuan dan bisnisnya makin terpuruk. Namun bersyukur di tengah kegalauannya itu, ia bertemu seorang ustadz dan menceritakan segala persoalannya. Ustadz tersebut menasehatinya agar segera bertaubat, memusnahkan segala jimat koleksinya, berusaha takwa dan tawakal kepada Allah, dan mulai merintis usaha baru dalam kehidupannya yang baru. Alhamdulillah, usahanya kini mulai menuai hasil yang baik. Berbeda lagi dengan kisah seorang akhwat pedagang kain di pasar Tanah Abang, Jakarta.

Ketika merasa dagangannya makin sepi dibanding hari-hari sebelumnya, ia mulai gelisah. Lalu ia datang kepada seseorang dan dikasih nasehat agar banyak melakukan wirid, yaitu membaca Al Fatihah 300 kali dan “ya fattahhu ya razzaq” sebanyak 1000 kali setiap malam, dan sebelumnya harus di dahului dengan shalat enam rakaat. Setalah pulang dari berdagang, ia memaksakan diri untuk mengamalkan wirid tersebut. Namun setelah sebulan melaksanakannya, ternyata tidak merasakan dagangannya tambah laris, bahkan yang terjadi sebaliknya, ia sering kesiangan bangun tidurnya dan telat melakasanakan shalat subuh, karena kecapaian wirid malamnya. Sehingga, ia menjadi agak loyo dan kurang bersemangat lagi untuk berdagang, dan omsetnya tokonya makin turun. Bersyukur ia tidak terjerumus dalam kemusyrikan.

Muslimin dan muslimat yang dirahmati Allah, Setiap pedagang pasti ingin beruntung, dan tak ada seorang pun yang ingin rugi. Bahkan kalau bisa keuntungannya berlipat. Hal itu sah-sah saja. Banyak cara yang dilakukan para pedagang untuk mendapat keuntungan. Bahkan jika dengan cara bersih tidak berhasil, kadang dilakukan dengan cara kotor. Jika dengan cara halal sulit, tak segan dilakukan dengan cara haram. Dengan cara yang wajar tidak menuai hasil, mereka lakukan dengan cara tidak wajar atau tidak sehat bahkan dengan jalan sesat. Semua yang mereka lakukan itu demi meraih keuntungan atau dagangannya laris.

Sehingga tidak sedikit yang menggunakan penglaris, namun dengan cara salah bahkan sesat seperti beberapa kisah di atas. Padahal masalah rizki, merupakan sesuatu yang masih misteri bagi semua makhluk Allah, karena rizki yang merupakan anugrah Allah kepada makhlukNya itu, adalah sesuatu yang dirahasiakan oleh Allah, dan setiap makhluk sudah ditentukan rizkinya masing-masing sesuai kehendakNya, sebagaimana firman Allah QS Al Ankabuut 60-62 yang terjemahannya di awal mukadimah mimbar ini.

Bahkan takdir baik dan buruk juga adalah ketentuan Allah, sehingga jangan terlalu senang atau sombong bila mendapat kebaikan atau kesenangan, dan sebaliknya tidak berduka yang berlebihan atau bahkan berpaling dari jalan Allah di saat mendapat musibah atau keburukan, seperti yang diingatkan Allah dalam QS Al Hadiid 22-24 yang juga terjemahannya dikutipkan pada mukadimah mimbar ini. Rasulullah juga menyampaikan sabdanya berkaitan dengan ketentuan tersebut : ” Sesungguhnya setiap kalian diciptakan dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nutfah, kemudian menjadi alaqah selama itu pula, kemudian menjadi mudghah selama itu pula. Kemudian diutus malaikat untuk meniupkan ruh kepadanya, lalu diperintahkan untuk menuliskan empat perkara : rizkinya, ajalnya, amalnya dan celaka atau bahagianya …” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketentuan ini berlaku untuk semua manusia. Oleh karena itu, manusia dalam menjemput rizki ini, Allah memerintahkan untuk tawakal, seperti pada firmanNya : ” Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, pasti Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah menetapkan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu ” (QS Ath Thalaq 3).

Tawakal artinya berusaha mendatangkan kemaslahatan dan menolak kemudharatan dalam urusan dunia maupun akhirat dengan tetap bersandar kepada Allah. Dengan demikian, bila seorang pedagang yang berusaha agar jualannya laris tetapi menempuh cara keliru dan sesat, adalah merupakan penyimpangan dan mencederai tawakalnya, karena ia telah bersandar kepada selain Allah dan mengikuti atau melakukan perbuatan yang dilarangNya. Agar usaha kita lancar, dagangan kita laris, bisnis kita maju, maka sebagai umat Nabi Muhammad saw, kita bisa mencotoh beliau.

Sebelum diangkat menjadi Rasulullah, beliau adalah seorang pedagang yang piawai, sehingga banyak mendapat keuntungan dalam bisnisnya. Kunci keberhasilannya adalah disamping tawakal, jujur dan pandai menawarkan atau mempromosikan barang dagangannya, juga berusaha meningkatkan kualitas barang dan memberikan pelayanan yang baik terhadap konsumen. Tentu saja barang atau jasa yang dijual juga yang halal dan baik, bukan barang haram dan tidak dengan cara yang haram. Ketika mendapat keuntungan, selalu mensyukurinya dengan cara mengeluarkan hak orang lain dan mengalokasikan atau mendistribusikan untuk ketaatan, bukan untuk kemaksiatan.

Dengan demikian usaha yang kita lakukan tersebut akan menjadi ibadah kepada Allah. Kalau kita sudah yakin bahwa rizki masing-masing orang sudah ditetapkan oleh Allah, mengapa pula masih mencari jalan yang lain yang tidak diridhai Allah ? Berikhtiar saja dengan wajar dan sungguh-sungguh sesuai ketentuan Allah dan RasulNya. Kalau ada pesaing usaha yang sama dengan yang kita lakukan, maka bersainglah dengan sehat. Ada pengalaman seseorang yang membuka toko kelontong di rumahnya, dan jualannya cukup laris karena di komplek itu belum ada toko kelontong lain. Lalu entah bagaimana, tetangganya juga membuka toko kelontong, sehingga ia merasa panas tersaingi, dan menurunkan omset jualannya. Atas anjuran temannya, ia kemudian diajak ke dukun untuk minta penglaris dan mematikan usaha tetangganya. Tidak lama kemudian, memang benar tokonya menjadi ramai dan toko tetangganya tampak makin sepi.

Namun hal itu tak berlangsung lama, karena keadaannya berbalik, toko tetangganya yang makin ramai. Sehingga ia memutuskan untuk datang kembali ke dukunnya. Betapa kagetnya ia ketika masuk ke ruang tunggu dukun tersebut, ternyata tetangganya sudah berada di sana, sehingga keduanya salah tingkah. Berarti dua-duanya menggunakan penglaris dari dukun yang sama, tetapi yang jelas dukunnya yang paling beruntung. Namun dibalik itu semuanya terjerumus dalam kemusyrikan, yang dosanya tidak terampuni. Padahal Allah telah memperingatkan tentang hal itu, seperti pada firmanNya QS Yunus 106-107 yang terjemahannya dikutipkan pada mukadimah mimbar ini. Oleh karenanya, dalam urusan bisnis atau berniaga, laris tidak laris, semuanya sudah ada takarannya masing- masing di sisi Allah, seperti pada firmanNya : ” Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rizki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya. Sesungguhnya Dia maha mengetahui lagi maha melihat akan hamba-hambaNya ” (QS Al Israa’ 30). Jika begitu mengapa tidak langsung saja minta kepada Allah yang maha kaya ? Semoga kita termasuk orang-orang yang selalu bersandar kepada Allah dalam berikhtiar. Kita akhiri dulu mimbar ini, alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin. Wassalamu’alaikum wr.wb.