Keberadaan Alien telah lama menimbulkan perdebatan di masyarakat. Alien yang dimaksud disini ialah makhluk berakal seperti manusia, memiliki peradaban tinggi, namun tinggal di planet lain di luar bumi. Kalangan Islam pun memiliki beberapa pendapat mengenai Alien tersebut.

Sebagian kalangan Islam menyatakan bahwa keberadaan Alien sangat mungkin karena alam semesta ini meliputi lebih dari 100 milyar galaksi (yang dapat dideteksi teleskop), sehingga kemungkinannya sangat besar bahwa diantara galaksi-galaksi tersebut terdapat planet yang memiliki kehidupan seperti bumi.

Sebagian kalangan Islam lainnya menolak dengan argumen bahwa alam semesta yang sangat luas ini tidak berarti memiliki banyak planet seperti bumi dengan makhluk-makhluk yang mendapatkan taklif untuk beribadah (seperti jin dan manusia). Namun luasnya alam semesta ini untuk menunjukkan kelemahan manusia. Manusia dengan teleskopnya yang paling canggih belum dapat mendeteksi batas alam semesta, karena itu manusia harus mengakui kebesaran Alloh swt.Kalangan pro-alien kembali mengajukan argument dengan ayat “Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya …” (QS. Asy Syuura: 29). Kalimat ‘makhluk-makhluk yang melata Yang Dia sebarkan pada keduanya’ menunjukkan bahwa ada makhluk yang diciptakan, hidup, dan melata di langit (antariksa).

Kalangan anti-alien balik membantah bahwa memahami ayat tersebut tetap harus menggunakan metode tafsir bil matsur. Lagipula keberadaan alien di planet lain juga akan memunculkan pertanyaan baru; agama apa yang dianut di planet alien tersebut, siapa saja nabi mereka? Karena umat yang mendapat taklif, membutuhkan Kitab dan Nabi yang melandasi taklif tersebut.

Namun kalangan pro-alien memiliki argumen pamungkas. Sudah banyak penampakan UFO (benda terbang yang tak dikenal) dan interaksi Alien dengan manusia. Betaufo.org menyebutkan, Dr. J. Allen Hynek (ahli astronomi yang semula meragukan UFO, namun setelah mengkaji berbagai kasus yang ada, ia menjadi serius untuk menelitinya lebih lanjut) mengklasifikasi penampakan UFO dan Alien sebagai berikut :

1. Perjumpaan jarak jauh (Relatively Distance Sightings): Melihat UFO dari jarak yang sangat jauh, sehingga UFO terlihat hanya seperti titik kecil saja seperti bintang di langit. Namun karena gerakannya yang aneh serta fenomena yang ditampakkan tidak umum, maka benda terbang itu termasuk kategori UFO.

Perjumpaan jarak jauh dibagi dalam 3 tipe yakni:

1.a.) Nocturnal lights (NL): Nampak seperti titik sinar di langit, umumnya berwarna merah, biru, oranye atau putih, dengan pola gerak dan kecepatan yang sulit dijelaskan sebagai obyek sinar lain pada umumnya

1.b.) Daylight discs (DD): Nampak di siang hari, umumnya berbentuk oval (bulat telur), bentuk piring, atau obyek berbahan metalik. Bisa nampak jauh di angkasa maupun berada dekat di tanah dan seringkali nampak mengambang. Kadang tiba-tiba bisa menghilang dengan kecepatan yang luar biasa.

1.c.) Radar-Visual cases (RV): Kasus yang jarang dilaporkan, yakni nampak di layar radar berupa titik berkedip yang tidak dapat diterangkan sebagai obyek pesawat atau benda lain yang dikenal. Biasanya harus disertai dengan konfirmasi penampakan melalui saksi mata.

2. Perjumpaan Jarak Dekat (Close Encounters)

2.a.) Perjumpaan dekat tingkat pertama: Melihat UFO sedang terbang dalam jarak yang relatif cukup dekat sehingga cukup jelas untuk melihat bentuknya.

2.b.) Perjumpaan dekat tingkat kedua: Melihat UFO sedang dalam posisi mendarat di permukaan tanah, umumnya ditunjang dengan bekas-bekas pendaratannya.

2.c.) Perjumpaan dekat tingkat ketiga: Melihat UFO mendarat serta terlihat pula ufonaut (alien) yang sedang turun atau berada di luar pesawat mereka.

Perjumpaan dekat (Close Encounters) tingkat keempat dan kelima dikemukakan oleh penerus J. Allen Hynek.

2.d.) Perjumpaan dekat tingkat keempat: Mengalami perjumpaan dengan alien, namun sebagai korban penculikan (alien abduction). Korban penculikan oleh alien sering tidak sadar dengan apa yang menimpa dirinya dan mengalami perubahan psikologik atau fisiologik yang mengganggu.

2.e.) Perjumpaan dekat tingkat kelima: Melakukan komunikasi dengan alien dan ikut bersama alien tersebut dengan pesawat mereka secara sukarela. Beberapa kasus kontak atau komunikasi dengan alien ini hanya berupa kontak telepati atau melakukan perjalanan astral (out of body experience) bersama alien.

Merujuk pada data-data di atas, kalangan anti-alien akhirnya mengeluarkan jawaban pamungkas. Mereka menyatakan bahwa penampakan Alien yang disebutkan sebelumnya, disebabkan oleh dua kemungkinan berikut : gangguan jin atau percobaan teknologi.

Sejak dahulu kala, manusia sudah mengalami interaksi dengan bangsa jin, baik berupa penampakan jin ataupun gangguan jin secara langsung. Setiap peradaban memiliki cerita tentang penampakan dan gangguan jin yang mereka hadapi. Peradaban Barat sejak dahulu kala pun memiliki kisah tentang makhluk-makhluk gaib, seperti banshee, goblin, elf, dan sejenisnya. Namun Peradaban Barat Modern yang sekuler, secara prinsip menolak segala hal yang mistis, non materi, dan tidak terindra. Ketika mereka menemui penampakan dan gangguan jin, penjelasan yang mereka buat ialah penampakan dan fenomena gangguan jin tersebut berasal dari intervensi Alien (makhluk cerdas dari planet di luar bumi).

Masyarakat Jawa mengenal fenomena Nocturnal lights dengan istilah Pulung, yaitu bola cahaya yang muncul di malam hari. Sebagian masyarakat Jawa menganggap bahwa Pulung yang berwarna merah adalah santet yang dikirimkan dukun untuk mencelakai lawannya. Sebagian masyarakat Jawa lainnya menganggap Pulung yang berwarna biru merupakan pertanda kemujuran atau naik pangkat. Pada beberapa suksesi raja Jawa, peristiwa ‘ketiban pulung’ menjadi legitimasi bagi calon raja yang rumahnya dimasuki bola cahaya biru.

Fenomena Daylight discs, Radar-Visual cases, dan Close Encounters tingkat 1-3 pun sangat mungkin disebabkan oleh Jin. Jin merupakan makhluk Alloh swt yang diberi keistimewaan dapat terbang dan mengubah wujud. Di masa Nabi Sulaiman, bangsa jin ditugaskan untuk menyelam dan membuat bangunan (QS. Al Anbiya: 82 dan QS. Saba: 13), hal ini menunjukkan bahwa bangsa Jin pun memiliki pengetahuan dan dapat menggunakan teknologi. Jin pun bisa tertangkap kamera. Jin juga berbangsa- bangsa dan bersuku-suku. Sehingga tak menutup kemungkinan ada suku Jin dengan penampakan wujud seperti Alien.

Info lebih lanjut mengenai jin bisa dilihat di http://studislam.blogdetik.com/2009/07/30/mengenal-jin/.

Mengenai Close Encounters tingkat keempat dan kelima, maka kasus pengakuan penculikan oleh Alien sangat mirip dengan kasus manusia yang mengaku pernah diculik Jin. Di Minangkabau, masyarakat mengenal kisah Orang Bunian yang terkadang membawa manusia masuk ke alam Orang Bunian. Perjalanan bersama Alien pun serupa dengan kisah ‘kunjungan’ ke istana Nyi Roro Kidul.

Sedangkan Perjalanan Astral (Out of Body Experience), para penggemar mistik menyebutnya dengan istilah Ilmu Merogo Sukmo, Lepas Sukma, dan Astral Projection. Mereka mendefinisikannya sebagai suatu proses pelepasan sukma (kesadaran/roh) dari raga (tubuh fisik) untuk melakukan perjalanan yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Para pelakunya mengaku bahwa mereka dapat ‘terbang’ kemana-mana tanpa terlihat orang lain dan tidak lagi dibatasi oleh dunia fisik, sehingga bisa menembus tembok, mengunjungi dasar samudera, pergi ke bulan, termasuk ke masa lalu ataupun masa depan, serta ke berbagai dimensi alam semesta. Mereka juga menyatakan bahwa Astral Projection bisa dilakukan atas keinginan sendiri (bisa diaktifkan dengan sengaja).

Dr Ian Robertson (pakar psychology dan Neuroscience) mengatakan bahwa perjalanan astral adalah tidak lebih dari seseorang yang bermimpi REM (Rapid Eye Movement) namun organ Cupid Frontal tetap terbuka. Secara normal, ketika orang bermimpi maka organ otak yang namanya Cupid Frontal akan menon-aktifkan dirinya sehingga sebuah mimpi akan berlangsung tanpa ada kesadaran dari pikiran sadar seseorang. Akan tetapi ada sebagian orang yang ketika bermimpi REM, organ Cupid Frontal-nya tetap terbuka sehingga dia akan sadar kalau dia bermimpi pada waktu dia bermimpi. Peristiwa inilah yang menurut teori Ian Robertson dinamakan Lucid Dreaming.

Beberapa factor penyebab tetap aktifnya Cupid Frontal saat seseorang bermimpi REM, hampir sama dengan penyebab Sleep Paralysis (Tindihan). Sehingga tidak menutup kemungkinan ada orang-orang yang karena terbiasa, dapat dengan sengaja tetap mengaktifkan organ Cupid Frontal-nya saat sedang bermimpi REM. Namun pada hakikatnya mereka tetaplah bermimpi.

Mengenai REM dan fase-fase tidur dapat dilihat di http://studislam.blogdetik.com/2009/07/23/misteri-tindihan/.

“Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda- tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.” (QS. Az Zumar: 42).

Berdasarkan teori parapsikologis, seperti dijelaskan ayat di atas, orang tidur dan orang mati adalah dua fenomena yang sama : dimana ruh terpisah dari jasad. Bedanya, pada orang tidur, ruh dengan kekuasaan Alloh bisa kembali pada jasad saat orang itu terjaga. Sedangkan pada orang mati, tidak. Ayat itu merupakan penjelasan, mengapa setiap orang yang bermimpi sadar dan ingat bahwa ia telah bermimpi. Ia bisa mengingat mimpinya, padahal saat bermimpi ia sedang terlelap tidur.

Ayat tersebut juga menjelaskan mengapa ketika ada sesorang yang tertidur namun mengalami kesadaran (termasuk sadar sedang bermimpi) akibat organ Cupid Frontal-nya tetap terbuka, maka seolah-olah dia merasakan dapat melihat tubuhnya yang sedang tertidur. Saat itulah mereka mengalami Out of Body Experience.

Kesadaran seseorang yang dalam kondisi mimpi, sangat membuka peluang untuk dipengaruhi oleh imajinasi bawah sadarnya, sehingga ia tidak dapat membedakan antara realitas dengan imajinasi. Dalam kondisi itulah ketika imajinasinya membawa ke dasar samudera, terbang ke bulan, menembus tembok, mengunjungi masa lalu atau masa depan, serta ke berbagai dimensi alam semesta, ia merasa semua itu seolah nyata, padahal itu semua hanyalah imajinasi belaka.

Beberapa ulama menyebutkan bahwa kondisi Lucid Dream dapat memberi peluang untuk Jin mempengaruhi mimpi orang yang mengalami Lucid Dream.

Selain merupakan penampakan dan gangguan Jin, fenomena Alien juga bisa disebabkan oleh percobaan teknologi. Dalam hal ini ialah pengembangan teknologi dalam rangka mempersiapkan Dajjal dengan Tata Dunia Baru-nya.

Mengenai persiapan para pengikut Dajjal dalam menyambut New World Order dapat dilihat pada kumpulan film pendek The Arrivals (Wake Up Project, terdapat lebih dari 50 film).

Salah satu pengembangan teknologi untuk mempersiapkan kedatangan Dajjal ialah Project Blue Beam. Project Blue Beam adalah proyek rahasia yang melibatkan kelompok Freemason untuk mempengaruhi seluruh umat manusia dengan cara memunculkan satu orang yang nantinya akan dipuja-puja sebagai Juru Selamat alias TUHAN. Terdiri dari tahapan-tahapan besar untuk menciptakan sandiwara buatan mengenai “Kedatangan Kedua Yesus/Isa A.S ke bumi” (second coming of Jesus/ Isa A.S) untuk mendirikan “satu agama dunia” yang dikendalikan oleh Tata Dunia Baru. Pertama kali dilaporkan ke publik pada tahun 1994 oleh Serge Monast, seorang wartawan Canada.

Tahun 1996, Serge Monast dan kolega-nya (keduanya meneliti Project Blue Beam) meninggal karena “serangan jantung” dalam selang beberapa minggu satu sama lainnya, meskipun keduanya tidak memiliki catatan mengidap penyakit jantung. Serge Monast telah menginspirasi pembuatan film Conspiracy Theory yang dibintangi Mel Gibson pada tahun 1997. http://en.wikipedia.org/wiki/Serge_Monast & http://fr.wikipedia.org/wiki/Serge_Monast.

Project Blue Beam diyakini merupakan kelanjutan dari eksperimen seperti Philadelphia dan Montauk, yang dikerjakan oleh militer Amerika Serikat di tahun 1940-an. Proyek ini telah melakukan eksperimen berkali-kali di daerah terpencil dengan membuat gambar holografik Yesus Kristus dan UFO.

Tahapan-tahapan program persiapan kedatangan Dajjal antara lain Subliminal Message, penemuan arkeologis palsu, bencana alam buatan, dan proyeksi holografik raksasa.

Subliminal Message dilaksanakan sejak lama dengan sarana utamanya ialah film dan televisi. Contoh film yang menjadi sarana pengkondisian psikologis ialah 2012, Knowing, The Day the Earth Stood Still, Men In Black, Independence Day.

Penemuan-penemuan arkeologis palsu ditujukan untuk mendoktrin umat manusia (dengan landasan teori evolusi) bahwa terdapat kesalahan yang mendasar dari semua doktrin agama. Pemalsuan informasi ini akan digunakan untuk menjadikan semua bangsa percaya bahwa doktrin agama mereka telah disalahpahami dan disalahtafsirkan selama berabad-abad.

Menggunakan HAARP (High Frequency Active Auroral Research Program) untuk membuat bencana alam.

HAARP adalah project yang bertujuan untuk memahami, menstimulasi, dan mengontrol proses ionospheric yang dapat mengubah kinerja komunikasi dan menggunakan sistem surveilans. Ionosfer adalah bagian atmosfer yang terionisasi oleh radiasi matahari. Lapisan ini berperan penting bagi keelektrikan atmosfer dan membentuk batas dalam lapisan magnetosfer. Fungsi utamanya, di antara fungsi-fungsi yang dimilikinya, adalah mempengaruhi rambatan radio ke tempat-tempat yang jauh di muka bumi. HAARP dimulai pada tahun 1992, project ditargetkan selesai tahun 2012. Markas HAARP terletak di Gakona, Alaska.

Penerapan HAARP diantaranya Weather Control (pengendali cuaca), mempengaruhi mood (suasana hati) manusia, dan menstimulasi gempa.

HAARP mengendalikan cuaca dengan menentukan satu titik ionosfer yang akan dipanaskan sehingga tekanan atmosfer meningkat dan seluruh tekanan terkumpul di satu titik serta membentuk arus jet/jet stream. Manipulasi jet stream dapat memicu hujan angin, gelombang panas, juga badai salju.

HAARP juga dapat mengirimkan radiasi Extreme Low Frequency (ELF) ke lapisan ionosfer yang dipantulkan kembali ke bumi dan otak manusia yang berpotensi mempengaruhi mood (suasana hati) manusia.

Saat terjadi gempa di Haiti (Januari 2010) dan Chili (Februari 2010), Presiden Venezuela Hugo Chavez serta beberapa media menenggarai gempa bumi tersebut bukan gempa bumi biasa tetapi disebabkan oleh uji coba senjata Amerika dan terkait dengan proyek HAARP.

Kecurigaan bahwa Amerika sedang mengembangkan senjata “perusak lingkungan” bukan tanpa alasan karena mantan Menteri Pertahanan Amerika William Cohen pada tahun 1997 pernah mengungkapkan kekhawatirannya terhadap negara-negara yang mengembangkan senjata “teroris” yang bisa mengubah kondisi iklim, menimbulkan gempa bumi, gunung meletus dan sejenisnya dengan menggunakan gelombang elektromagnetik.

HAARP membuat penggunanya menjadi Tuhan Palsu yang dapat mengendalikan cuaca dan bencana alam.

Tahapan Project Blue Beam lainnya adalah membuat ‘pertunjukan angkasa’ raksasa dengan hologram tiga dimensi dan suara optik, memproyeksikan gambar-gambar laser holografik ke berbagai belahan dunia. Suara ‘Tuhan Baru’ akan diperdengarkan dalam semua bahasa. Proyeksi holografik tersebut akan memunculkan satu orang yang mengaku sebagai Tuhan.

Penampakan-penampakan UFO merupakan bagian dari percobaan proyeksi holografik tersebut.

Para pengikut Dajjal telah mengerjakan berbagai proyek demi menyambut kedatangan Dajjal Sang Mesiah Palsu. Dari Project Codex Alimentarius (pengendalian demografi dan populasi manusia melalui makanan), pembuatan berbagai penyakit baru serta meracuni obat dan vaksinasi, juga rencana penggantian Identification Cards (KTP) dengan metode chip yang ditanamkan ke dalam tubuh manusia.

Project Blue Beam hanya salah satu program para pengikut Dajjal. Berbagai penampakan UFO ditenggarai merupakan salah satu efek percobaan dari Project ini. Namun penampakan dan gangguan Jin juga dapat menjadi alternative lain dari adanya berbagai penampakan UFO dan Alien.

Wallohu A’lam BishShowab.

Abdullah