Saat saya masih SD di kampung dulu sangat senang sekali menonton film-film bergenre silat ala Si Pitung, Si Buta dari Gua Hantu, dan film-film nasional sejenis. Maka tidak heran jika saya begitu mengenal Barry Prima, Adven Bangun, Eva Arnaz, dan artis laga seangkatan mereka lainnya.

Film-film laga yang mempertontonkan kesaktian tokoh dalam cerita tersebut membuat saya terobsesi untuk belajar ilmu silat dan ‘tenaga dalam’ atau ilmu kanuragan serta ilmu klenik lainnya. Rasanya keren juga bisa menjadi jagoan yang punya banyak ilmu, menguasai dunia persilatan dan membela kebenaran dengan menumpas kebatilan.

noenkcahyana.blogspot.comnoenkcahyana.blogspot.com

Saat kuliah di Surabaya sekitar tahun 1990-an, seringkali setiap malam tertentu saya berkeliling wilayah Surabaya timur untuk sekedar melihat para pendekar silat berlatih gerak silat dan olah kanuragan. Waktu itu sedang booming perguruan silat yang mengajarkan tenaga dalam. Sebut saja Merpati Putih (MP), Silat Tauhid, Satria Buana, Sinar Putih, dan masih banyak lainnya. Apalagi saat mereka berlatih tenaga dalam. Dengan sekali kibasan tangan tanpa menyentuh, lawan dapat dibuat terjungkal bahkan tumbang bergulungan di tanah. Belum lagi saat beberapa dari mereka bisa mematahkan besi dragon (pegangan pompa air) dengan tangan kosong  sekali pukul. Sepertinya kekuatan ilmu tenaga dalam itu benar-benar nyata untuk bisa mewujudkan diri menjadi pendekar pembela kebenaran dan keadilan hanya dengan latihan gerakan tertentu dan olah pernafasan. (lebay…)

Namun entah mengapa saya hanya senang mengamati dan membandingkan jurus-jurus dan kehandalan perguruan silat tenaga dalam tersebut. Sampai dengan saat ini, saya belum pernah belajar dari mereka tenaga dalam yang katanya bisa mengalahkan lawan tanpa menyentuhnya tersebut. Karena masih ada tanda tanya besar dalam kepala saya, kekuatan darimana yang digunakan untuk menjatuhkan para pengeroyok yang lebih dari 4 orang hanya dengan tarikan nafas dan gerakan tangan menyapu. Rasanya tidak masuk akal. Lebih tidak masuk akal lagi dengan belajar silat dengan model ‘Silat Setrum’. Si murid meminum air yang diberikan oleh sang guru, kemudian dalam waktu sekejab, si murid akan trance dan bisa memainkan gerakan silat apa saja sesuai permintaan. Mulai dari Silat Cimande, Minang, hingga kungfu ala Bruce Lee. Si murid yang dalam kondisi normal tersebut tidak bisa split — merenggangkan kedua kaki hingga lurus, namun dengan air putih mantra ini dia bisa melompat dan split ala Bruce Lee. Sungguh ilmu silat instan yang mengagumkan.

Namun apakah benar benar semua ilmu kanuragan tersebut benar-benar berfungsi dan dapat diandalkan? Ah saya rasa semua ilmu klenik dan tenaga dalam itu cuman ilmu fatamorgana. Semua tampak seolah-olah hebat, namun omong kosong besar. Ada banyak argumentasi yang bisa saya berika kalau tenaga dalam tersebut cuman omong kosong.

Setelah booming ilmu tenaga dalam dan banyak diekspose di berbagai media massa pada waktu itu, berbagai kesatuan di kepolisian dilatih oleh para pendekar silat tenaga dalam untuk bisa menguasainya. Seorang polisi anti huru-hara yang telah menguasai ilmu tenaga dalam disebut dapat mengalahkan 5 hingga 20 orang yang menyerangnya hanya dengan sekali hentakan kaki. Bahkan seorang penyerang yang menggunakan senjata tajam, dapat dilumpuhkan oleh sang polisi dengan tangan kosong tanpa menyentuh si penyerangnya.

Namun, apakah kenyataannya? Semua hanya ilusi dan pertunjukan sirkus saja. Andaikata ilmu tenaga dalam tersebut dapat bekerja dengan baik kapan saja dan di mana saja, pasti tidak ada seorang rakyatpun yang terluka bahkanmati terbunuh oleh peluru yang dibeli dari uang rakyat pula. Brimob dan pasukan anti huru-hara cukup berbaris membuat barikade, kemudian saat sekumpulan mahasiswa, buruh atau rakyat jelata yang marah karena aspirasinya tidak didengar — datang menyerang, polisi-polisi tersebut tinggal menjentikkan jarinya dan semua penyerangnya terlempar bergulingan. Ah, ternyata kehebatan ilmu tenaga dalam pasukan anti huru-hara tersebut tidak pernah terbukti.

Anda mungkin akan membela diri kalau silat tenaga dalam itu tidak bisa dikuasai oleh semua orang. Oke fine. Masak dari 500 polisi yang berlatih tak satupun yang dapat menguasai tenaga dalam untuk memukul mundur penyerangnya dari jarak jauh. Ilmu yang benar itu adalah ilmu tanpa syarat yang bisa dipelajari oleh semua orang tanpa pantangan. Tidak perlu pantangan tidak boleh makan ketan hitam nanti ilmunya luntur, atau setiap malam 1 Suro harus menyembelih ayam serba hitam untuk dimakan mentah-mentah.

Nenek moyang kita sebanarnya tidak hebat-hebat benar dengan ilmu tenaga dalam dan ilmu klenik seperti santet dan tenung. Buktinya kita bisa dijajah oleh bangsa lain yang lebih menguasai pengetahuan, teknologi dan organisasi yang baik. Kemerdekaan Indonesia tidak akan dapat diraih karena kita punya seribu pendekar yang tidak mempan ditembak, bisa menghilang, dan bisa terbang. Andai kata ilmu santet itu benar-benar cukup ampuh, pasti ada banyak Gubernur Belanda yang mati karena dari perutnya keluar paku, linggis, bahkan sekalian cangkul dan bajak sawah. Anda mungkin akan berargumentasi kalau santet itu ghak mempan bagi mereka yang tidak percaya sehingga para penjajah itu tidak bisa disantet karena tidak percaya santet. Hahaha… alasan…

1324803157671295161

Ayo para pendekar sakti yang pada tahun 1990 sering muncul di televisi yang mendemonstrasikan cara menghalau pengeroyok dengan tenaga dalam. Turunkan ilmu sakti kalian kepada polisi kita, agar mereka bisa menghalau perusuh, demonstran, dan rakyat kita yang marah, tanpa harus melukai dan membunuh dengan peluru tajam. Itupun kalau memang benar ilmu tenaga dalam kalian bukan ilmu fatamorgana seperti pistol dengan peluru hampa.

Dikutip dari sini