Di komentar lalu, saya bertanya pada dua pendukung paham Kang Dicky, Wuming dan Sang Pencari. Pertanyaannya saya rasa sangat sederhana.

1. Sudahkah antum ungkapkan secara terus terang kisah-kisah nabi versi HI (tentang ADHAMA [Nabi Adam], KHRIED [Khidr], HAMMADZ [Rasul SAW], Nabi Yunus as]) ke ulama atau ustadz terdekat?

2. Jika sudah, bagaimanakah tanggapannya?

Berikut adalah jawabannya:

Wuming: hmm ckp menarik jg saranya…tpi kenapa selama ini tuntutan selalu diarahkan ke kami, bagaimana klo kita saling croschek jg, klo ada ksmpatan baik ane akan coba bincang2 dgn yg dinilai ahli agama/ustadz/imam mengenai nabi Adam a.s, dan anda jg mengkaji kiriman hadist2 yg telah dimanipulasi tsb ke ustadz anda lebih afdol ke ahli hadist dn klo perlu dgn bukti kitabnya jg mskipun ente bkn wahabi, kan ktanya ente peduli sunah…gmn klo gtu?? pdhl kiriman paket itu sdh lama ane kirim spesial bwt ente 😀

Sang Pencari: – Saya jawab belum pernah,kenapa? Karena memang saya tidak berkepentingan untuk membicarakan sesuatu yang sifatnya baru dan orang pun belum tentu punya pikiran dan logika yang sama dengan kita

Mengherankan …

Bagi saya, jawabannya sangat mengherankan.

Jika memang merasa yakin akan kebenaran jawabannya, kenapa sama sekali tidak berniat untuk menyampaikan pahamnya ke pihak luar?

Apa sulitnya bertanya ke imam masjid sambil ikutan sholat berjamaah fardhu?

Bisa jadi mereka sulit menjelaskannya. Sama halnya kita meyakini faham berbeda dalam perkara furu’ agama. Misal kita meyakini bahwa tahiyyat itu harus menggerak-gerakkan jari. Tentu sulit bagi awam untuk menanyakan ini ke ulama NU yang memiliki faham berbeda, apalagi untuk menjelaskan.

Tapi, tidak akan ada beban bagi awam untuk mengutarakan paham ini ke ulama berbeda. Kita yakin tidak akan ulama yang sampai mengatakan bahwa menggerak-gerakkan jari dalam tasyahud adalah kesesatan. Kalaupun ada, kita bisa meminta fatwa dari ulama lain yang mendukung, misalnya dari Persis, Muhammadiyah, atau Salafy. Tidak harus bersumber dari Guru Utama saja.

Pertanyaan Besar

Jika memang yakin paham yang mereka yakini adalah benar dan kuat, apa sesungguhnya yang menghalangi mereka untuk berbicara terus terang? Bahkan Kang Dicky, Hikmatul Iman, dan ARKHYTIREMA tidak pernah mengungkapkannya secara terang-terangan.

Bukankah menyembunyikan kebenaran adalah sebuah kejahatan? Jika beralasan masyarakat belum siap dengan kebenaran, bukankah di zaman Jahiliyyah pun masyarakat Makkah sama saja bahkan memilih perang daripada meninggalkan berhalanya. Kenyataannya ini tidak menghalangi Rasul saw untuk menyampaikan risalahnya.

Jika memang kisah ini suatu kebenaran, apakah mungkin hanya Kang Dicky saja satu-satunya di dunia yang tahu? Kisah ini tidak pernah ditulis di kitab manapun, tidak diketahui oleh ulama mana pun.

Ataukah mereka malas bertanya karena tahu bahwa paham ini akan langsung difatwa menyimpang, sesat? Daripada diberitahu bahwa itu sebuah kesesatan, mungkin mereka merasa lebih baik untuk diam dan tidak mencari tahu.