Situs megalitikum di Gunung Padang, Cianjur

Artikel ini adalah penyeimbang dari banyaknya kesimpulan sepihak yang dilakukan oleh Andi Arif, staf khusus bidang bencana, bukannya mengurus korban bencana, tapi sibuk buang anggaran negara karena bisikan paranormal Kang Dicky (Guru Utama Hikmatul Iman) adanya piramid di gunung Padang.

Berikut ini artikel pembandingnya :

(PASUNDAN RADIO-CIANJUR) Rembug Arkeologi Situs Gunung Padang oleh sejumlah arkeolog, geolog dan astronom, memastikan jika Situs Gunung Padang yang berada di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur bukan Piramida. Meski demikian, situs ini tetap punya potensi untuk dikembangkan menjadi daerah wisata.

“Gunung Padang merupakan sumbat lava di dalam kawah Gunung Api Purba, dan kemungkinan besar bukan Piramuda,” kata Geolog Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sutikno pada Rembug Arkeologi Situs Gunung Padang yang diadakan pada Kamis (29/3) di Pusat Arkeologi Nasional, Pejaten, Jakarta Selatan.

Menurut Sutikno, sumbat lava adalah bagian atas leher gunung api yang menyembul ke permukaan. Nah, sumbat lava itu hancur berserakan karena proses tektonik dan longsor.

“Masyarakat setempat pada masa lalu kemudian memanfaatkannya untuk membangun punden berundak untuk pemujaan,” terangnya.

Maka seiring waktu, punden berundak tersebut ditinggalkan, diduga karena gempa atau tanah longsor. Maka pada saat ini dijumpai sisa-sisa dari struktur punden berundak tersebut.

Namun, pendapat Sutikno bertentangan dengan hasil penelitian Tim Katastrofik Purba yang mengatakan bahwa struktrur yang didapatkan di Gunung Padang adalah buatan manusia. Tim Katastrofik Purba, sebelumnya lewat pengeboran sedalam 20 meter, menemukan tiga rongga di badan gunung. Tim juga menemukan lapisan pasir. Selain itu, tim pun mengklaim bahwa situs megalitikum Gunung Padang bukan situs biasa. Situs tersebut lebih tua dari Piramida Giza atau dibangun sekitar tahun 4700 SM.

Terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Cianjur Imam Haris menyebutkan, terlepas dari berbagai spekulasi soal sejarah adanya situs Gunung Padang.

Himam mengatakan Pihaknya terus melakukan perencanaan pengembangan wisata lebih luas atas situs tersebut dan pihaknya tengah mempersiapkan pembebasan tanah sekitar 20 hektar, dengan total keseluruhan seluas 50 hektar.

Adapun wisata yang dikembangkan, selain geologi, juga kebun teh yang rencananya dilakukan bersama produsen Teh Sosro. Ada pula curug yang terletak di dekat Gunung Padang dan rencananya akan mengembangkan wisata perjalanan dengan kereta api. Pengunjung bisa menikmati pengalaman naik kereta api uap dari Cianjur,” ungkapnya.(Ilah Sukaesih)

Proyek Piramida Gunung Padang, Sebuah Politik Kebudayaan yang tidak Berbudaya

SON. Proyek pencarian piramida di gunung padang adalah cara keliru untuk memenuhi dahaga bangsa ini terhadap kebangaan. Proyek tersebut, Selain membuang dana dan tenaga juga ironis. Sebab, disebut gerakan masyarakat sipil padahal disponsori lstana.

Demikian disampaikan oleh pengamat politik Universitas Indonesia, Donny Gahral Ardian kepada SOROTnews Online, Senin (28/5).

“Lebih baik perbaiki prestasi olahraga di pentas global ketimbang mengutak-atik sejarah demi sebuah romantisme tentang kepurbaan yang adiluhung,”terangnya.

Lebih jauh, Donny mengatakan bahwa sikap yang dipertontonkan terkait dengan gunung Padang ini sebuah sikap yang dinilai bertentangan.”Ini sebuah politik kebudayaan yang tidak berbudaya,”ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, dalam menguak keberadaan piramida yang berada di Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat akan segera terkuak. Pasalnya Asisten Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana (SKP BSB) telah membentuk tim yang dinamakan Tim Terpadu Penelitian Mandiri Gunung Padang.

Andi Arief menjadi salah seorang anggota Dewan Pengarah bersama Prof. Dr. Gumilar Rusliwa Soemantri (Rektor UI), Dr. Hasan Jafar (Guru Besar UI), Prof. Dr. Harry Truman Simanjuntak (ahli paleolitik), Prof. Dr. Nina Herlina Lubis, M.S. (sejarawan), Prof. Dr. Zaidan Nawawi, M.Si. (Ketua Forum Guru Besar), Dr. Soeroso, M.P., M.Hum. (arkeolog senior), dan Acil Darmawan Hardjakusumah (budayawan).

Tim ini diharapkan bisa menjadi model untuk penelitian penting lainnya, dimana prakarsa masyarakat dan bentuk koordinasi yang difasilitasi negara bisa lebih dikembangkan.(njp)

Arkeolog: Silakan Digali, Tak Akan Ada Makam di ‘Piramid’ Gunung Padang

Jakarta Situs megalitik Gunung Padang menjadi kontroversi sejak mencuat kabar adanya piramid yang berada di lapisan bawah punden berundak berteras 5 di Gunung Padang. Namun, seorang arkeolog sekaligus ahli Efigrafi membantah bila di bawah lapisan tanah Gunung Padang terdapat piramid laiknya sebuah makam Firaun di peradaban Mesir Kuno.

“Silakan digali, tidak ada itu namanya piramid seperti di Mesir,” kata Arkeolog Dr. Hasan Djafar, saat berkunjung ke Situs Megalitik Gunung Padang, Desa Karyamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur, Jabar, Selasa (22/5).

Hasan yang pernah mengajar di Universitas Indonesia (UI) ini juga pernah melakukan penelitian di sejumlah situs kepurbakalaan.

Baginya, walau dirinya belum pernah meneliti secara langsung situs tersebut. Informasi mengenai keberadaan situs yang pertama kali ditemukan NJ Krom, WN Belanda, tahun 1914 itu didapatkan dari pertukaran informasi antar arkeolog Indonesia.

Hasan sendiri pernah menggeluti temuan situs komplek candi Budha di Karawang yang ternyata dibangun 200 tahun terlebih dulu daripada Candi Borobudur, yaitu abad ke 600 SM.

Menurut Hasan, peradaban purbakala di nusantara tidak semaju di Mesir saat piramida berdiri tegak dan telah mengenal teks sebagai medium komunikasi.

“Kalaupun ada piramid, bukan artinya piramid budaya mesir yang mengenal teks. Ini (situs Gunung Padang) adalah punden berundak yang dibangun tinggi, tidak ada ruang kosong atau makam seperti di Mesir,” katanya.

Punden berundak jaman megalitik sengaja dibangun tinggi oleh kehidupan purbakala. Karena saat itu peradaban mengenal konsep reliji menyembah alam yang diyakini memiliki kekuatan bernyawa, seperti angin, matahari, gunung, dan lautan.

“Lantas, mengapa harus tinggi?” Tanya detikcom sambil menikmati panorama hamparan pegununhan di utara puncak Gunung Padang.

“Karena mereka menganggap dewa-dewa berada di tempat tinggi,” katanya.

Senada dengan muridnya, Ali Akbar, Hasan tidak menampik bila konsep reliji masyarakat dahulu, khususnya yang hidup di zaman pra sejarah, menggunakan Gunung Padang sebagai medium untuk memuja Gunung Gede.

“Bisa dilihat dari arah beberapa ruangan yang ada dan artefak yang bersisa seperti kursi batu yang menghadap ke Gunung Gede, atau pendaringan (peristirahatan) yang menghadap posisi sama,” ujar Doktor yang saat ini mengabdi di Universitas Indraprasta untuk program studi Pendidikan Sejarah.

(ahy/ndr)