Sumber Screen Shot Diambil dari :

http://www.jak-tv.com/app/program/index.php?mn=32&tglprog=&id=20101008155428

Seringkali kita terheran-heran ketika Guntur Bumi yang kita kenal sebagai paranormal gadungan dan sebelumnya tidak memiliki gelar apa-apa tiba-tiba sudah menyandang gelar setingkat Doktor. Lebih heran lagi jika hal itu terjadi pada Guntur Bumi yang sama sekali tidak ikut kuliah Universitas resmi yang menyelenggarakan program setingkat S2 (magister) atau S3 (doktor). Komentar yang keluar dari sebagian orang adalah: Kapan kuliahnya Guntur Bumi ? Kok gampang amat Guntur Bumi dapat gelar doktor? Tesisnya tentang apa ya? Kok bisa Dukun Guntur Bumi dapat gelar itu padahal dia khan cuma tamatan S 1 dengan gelar ST ?


Komentar-komentar tersebut tentu amat wajar dan beralasan mengingat bahwa untuk meraih gelar S2 (magister) atau S3 (doktor) sungguhan bukanlah sesuatu hal yang mudah. Sebagai contoh: untuk lulus seleksi dan masuk ke jenjang pendidikan di tingkat S2 memerlukan berbagai persyaratan, seperti jumlah IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) ditingkat S1 harus mencapai 3,00 (dgn score tertinggi: 4,00), Score TOEFL harus mencapai 500 atau lebih, Score Test Potensi Akademik (TPA) harus mencapai 550 ke atas, dsb.

Lulus seleksi juga belum menjamin bahwa seseorang akan bisa meraih gelar yang diingingkannya karena ia masih harus mengikuti kuliah dengan jumlah SKS tertentu, membuat makalah, melakukan penelitian dan membuat tesis. Semua ini membutuhkan kerja keras dan ketekunan yang menyita waktu bertahun-tahun. Mereka yang pernah melewati proses ini pasti tahu apa artinya pengorbanan yang harus dilakukan untuk memperoleh sebuah gelar akademik yang pantas.

Membaca berbagai buku teori, melakukan penelitian, menguji hipotesis, mempresentasikan karya ilmiah di depan dosen-dosen penguji merupakan beberapa contoh kegiatan dalam proses pendidikan yang panjang dan melelahkan yang harus dilalui para penuntut ilmu. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk jenjang pendidikan S2 adalah antara 3 s/d 5 tahun, sementara S3 di luar negeri adalah 4 s/d 8 tahun, bahkan ada juga yang baru berhasil menyelesaikan kuliah setelah menjalaninya selama 10 tahun. Lamanya waktu yang harus ditempuh tersebut , bagi Guntur Bumi yang track recordnya tidak jelas, bukanlah suatu hal yang mudah mendapatkan gelar Doktor secara jantan dan halal.

Ada beberapa 3 kemungkinan yang bisa dijadikan patokan dari mana gelar yang didapat Dukun Guntur Bumi.

Pertama, Guntur Bumi Membeli gelar Aspal (Asli tapi Palsu)
Memang sangat banyak program S2 atau S3 yang ditawarkan banyak “lembaga pendidikan” model “instant” yang membuka program-program di hotel-hotel berbintang atau bahkan kuliah di tempat kerja (kantor) peserta. Untuk masuk ke program yang ditawarkan, peserta hanya cukup mengisi formulir, memilih gelar yang diinginkan, lalu membayar biaya jutaan rupiah( contoh: Rp 5 juta s/d Rp 10 Juta untuk gelar MM, MSc, MBA, BBA dan Rp 20 juta s/d 30 juta untuk gelar Doktor atau Profesor) dan selanjutnya tinggal menunggu konfirmasi dari pihak penyelenggara kapan ada “pertemuan” dan jadwal wisuda.

Mahasiswa yang mengikuti program ini cukup mengikuti beberapa kali perkuliahan atau menyelesaikan beberapa modul yang biasanya dikirim ke rumah, menyetor sejumlah uang , mengikuti widusa (terkadang di luar negeri) lalu memperoleh ijazah dan segera menyandang gelar. Gampang dan cepat, ibarat membuat Mie Instant. Praktek seperti inilah yang sekarang kita kenal dengan istilah “jual beli gelar”.

Jual beli gelar ini nampaknya tidak pernah surut bahkan semakin banyak peminatnya. Gelar kehormatan seperti Doktor Honouris Causa yang seharusnya hanya diberikan kepada seseorang yang telah berjasa dan memiliki prestasi luar biasa di suatu bidang tertentu (terutama untuk pengembangan ilmu pengetahuan) pun tidak luput dari praktek jual beli ini. Oleh karena itu tidaklah mengherankan jika Dukun Guntur Bumi tiba-tiba sudah menyandang gelar doktor tersebut, sementara kita tahu dengan pasti Guntur Bumi tidak memiliki prestasi luar biasa di masa sekolah atau pun di masyarakat.

Pertanyaan untuk Guntur Bumi: Dari Universitas mana dia kuliah hingga mendapatkan gelar DR?

Pertanyaan diatas sangat penting, sebab jika yang memberikan gelar tersebut hanya lembaga pendidikan yang memang kerjanya menjual gelar/tidak kredibel untuk memberikan gelar maka jelas Guntur Bumi membeli gelar.

Kedua : Guntur Bumi mendapatkan gelar DR Honoris Causa Aspal (Asli tapi palsu)
Gelar Honoris Causa (H.C) / Gelar Doktor Kehormatan adalah sebuah gelar kesarjanaan yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi/universitas yang memenuhi syarat kepada seseorang, tanpa orang tersebut perlu untuk mengikuti dan lulus dari pendidikan yang sesuai untuk mendapatkan gelar kesarjanaannya tersebut. Gelar Honoris Causa diberikan dapat diberikan bila seseorang telah dianggap berjasa dan atau berkarya luar biasa bagi ilmu pengetahuan dan umat manusia.

Perguruan tinggi mana saja dapat memberikan penilaian terhadap orang-orang yang dianggap sangat berjasa dan layak mendapatkan gelar Dr HC namun pada akhirnya hasil penilaian tersebut akan dinilai kembali oleh masyarakat. Pada umumnya masyarakat mempercayakan penilaian kepada perguruan tinggi ternama. Tidak mengherankan, masyarakat meragukan gelar Dr HC yang diberikan oleh universitas yang menurut investivigasi majalah Forum namanya dimiripkan dengan nama universitas yang sudah ternama. Sebagai contoh salah satu universitas gadungan yang banyak memberi gelar Dr HC adalah Harvard Internasional University yang namanya sengaja dimiripkan dengan nama universitas yang terkenal di Amerika yaitu Harvard University atau Northern California Global University (NCGU) yang merupakan universitas gadungan.
.
Perguruan tinggi yang memberi gelar “Dr HC” secara massal yang diantaranya ditawarkan melalui iklan di surat kabar dengan tarif tertentu. Pada salah satu surat kabar nasional bahkan pernah ada iklan pemberian gelar profesor sekalian dengan paket umroh. Pasar gelar di Indonesia tampaknya cukup menjanjikan karena cukup banyak konsumen yang gila gelar “kesarjanaan” dan yang luar negeri minded. termasuk ada banyak paranormal yang mendapatkan gelar DR Hc contohnya Ki Joko Bodo.

Karena diberikan oleh universitas yang tidak kredibel, jangan heran siapapun dinilai layak memperoleh gelar Dr HC sepanjang memiliki cukup uang. Tentu saja peluang mendapatkan gelar ini hanya diminati orang-orang semacam Guntur Bumi yang sangat menginginkan gelar Dr HC sementara mereka, setidaknya sampai saat ini, tidak mendapatkan gelar yang diinginkan dari universitas ternama karena bukan hanya mereka tidak dikenal tetapi juga tidak layak mendapatkan gelar tersebut.

Pertanyaan untuk Guntur Bumi:
1. Jika gelarnya adalah Doktor Honoris Causa, mengapa tidak dicantumkan gelar HC pada Gelar Doktornya. Pencantuman HC adalah WAJIB sebab jika Guntur Bumi mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa yang jelas merupakan penghargaan dan bukan melalui jenjang pendidikan S2 dan S3.

2. Guntur Bumi sama sekali tidak ada yang menonjol prestasinya dimasyarakat kecuali dalam bidang tipu menipu Paranormal dan menonjol produk paranormalnya sangat mahal hingga hanya orang-orang kaya saja yang sanggup membeli produk sesatnya.

Ketiga, Guntur Bumi memang menipu dengan mencantumkan gelar DR tanpa pernah mengikuti jenjang pendidikan S2-S3.

Ya memang 100% menipu tanpa malu mencantumkan gelar Doktor tanpa pernah mengenyam pendidikan S2-S3 diuniversitas manapun juga.

KESIMPULAN
Direktorat Jenderal (Ditjen) Dikti juga Masyarakat dan aparat Hukum baik kepolisian atau kejaksaan untuk meneliti dan menindak tegas penipuan gelar yang dilakukan Dukun Guntur Bumi sebab bisa menipu masyarakat banyak demi keuntungan pribadi Guntur Bumi sendiri.

Dengan banyaknya gelar gadungan yang disandang Guntur Bumi dan malah hampir-hampir mirip dengan gelar aslinya sudah membuktikan bahwa Guntur Bumi benar-benar seorang Narsistik.

Apa sebenarnya yang terjadi dalam diri Guntur Bumi si pembeli gelar yang tanpa malu dan canggung memamerkan gelar atau ijazah Aspal ?

Jelas sudah Guntur Bumi mengalami gangguan kepribadian? Jika pembelian gelar tersebut dilakukan secara sadar dengan pertimbangan matang demi memenuhi ambisi-ambisi pribadi dengan mengabaikan rasa keadilan masyarakat (terutama bagi para pemegang gelar asli) maka sudah tentu dapat dikatakan bahwa Guntur Bumi tersebut memang mengalami gangguan kepribadian.

Untuk lebih jelasnya maka saya mencoba memberikan beberapa ciri kepribadian yang dimiliki oleh Guntur Bumi yang seringkali mengambil jalan pintas untuk memperoleh apa yang diinginkannya, termasuk gila gelar, sebagai berikut:

Merasa Diri Paling Hebat

Guntur Bumi merasa dirinya paling hebat/penting (bedakan dengan orang yang benar-benar hebat/penting) maka Guntur Bumi tidak akan malu-malu untuk memamerkan apa saja yang bisa memperkuat citranya tersebut. Selain itu untuk mendukung citra / image yang dibentuknya sendiri, Guntur Bumi rela menggunakan segala cara.

Oleh karena itu ketika orang tersebut berhasil memperoleh gelar (tanpa mempedulikan bagaimana cara memperolehnya) maka Guntur Bumi tidak akan segan atau malu-malau untuk memamerkannya kepada orang lain. Bagi mereka hal ini sangat penting agar orang lain tahu bahwa ia memang orang yang hebat. Tidak heran cara-cara seperti mengirimkan ucapan selamat atas gelar yang diperoleh secara instant (dibeli) di koran-koran oleh “diri sendiri” dianggap bukan suatu hal yang aneh.

Fantasi Kesuksesan & Kepintaran

Pintar dan sukses adalah impian setiap orang. Meski demikian hanya sedikit orang yang bisa mewujudkan impian tersebut. Pada Guntur Bumi yang pembeli gelar sangatlah mungkin Guntur Bumi menganggap bahwa kesuksesan yang telah Guntur Bumi capai (cth: punya jabatan paranormal gadungan) belum cukup jika tidak diikuti dengan hanya gelar akademik S 1 yang dimiliki Guntur Bumi yang seringkali dianggap sebagai simbol “kepintaran”.

Sayangnya untuk mencapai hal ini Guntur Bumi tidak memiliki modal dasar yang cukup karena adanya berbagai keterbatasan seperti tidak punya latarbelakang pendidikan yang sesuai, tidak memiliki kemampuan intelektual yang bagus atau tidak memiliki waktu untuk sekolah lagi. Hal ini membuat Guntur Bumi memilih jalan pintas dengan cara membeli gelar sehingga terlihat bahwa dirinya telah memiliki kesuksesan dan kepintaran (kenyataannya hal tersebut hanyalah fantasi karena gelar seharusnya diimbangi dengan ilmu yang dimiliki).

Sangat Ingin dikagumi

profil, biodata dan kisah hidup ustad guntur bumi atau suami puput melati yang tengah dikabarkan menikah siri dengan nuri maulida

Pada umumnya para pembeli gelar seperti Dukun Guntur Bumi adalah para individu yang sangat terobsesi untuk dikagumi oleh orang lain. Oleh karena itu mereka berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan “simbol-simbol” yang dianggap menjadi sumber kekaguman, termasuk gelar akademik dan gelar gadungan.

Obsesi untuk memperoleh kekaguman ini sayangnya seringkali tidak seimbang dengan kapasitas (kompetensi) diri sang individu tersebut (cth: tidak memenuhi syarat jika harus mengikuti program pendidikan yang sesungguhnya). Akhirnya dipilihlah jalan pintas demi mendapatkan simbol kekaguman tersebut.

Kurang Empathy

Para pembeli gelar seperti Dukun Guntur Bumi pastilah bukan orang yang memiliki empati, sebab jika mereka memilikinya maka mereka pasti tahu bagaimana perasaan para pemegang gelar asli yang memperoleh gelar tersebut dengan penuh perjuangan. Jika Guntur Bumi memiliki empati pastilah Guntur Bumi dapat merasakan betapa sakit hati para pemegang gelar sungguhan karena kerja keras mereka bertahun-tahun disamakan dengan orang yang hanya bermodal uang puluhan juta rupiah.

Merasa Layak Memperoleh Keistimewaan

Dukun Guntur Bumi yang mengalami gangguan kepribadian narsissistik merasa bahwa dirinya berhak untuk mendapatkan keistimewaan. Karena merasa dirinya istimewa maka dia tidak merasa bahwa untuk memperoleh sesuatu dia harus bersusah payah seperti orang lain. Oleh karena itu Guntur Bumi tidak merasa risih atau pun malu jika membeli gelar karena bagi mereka hal itu merupakan suatu keistimewaan yang layak mereka dapatkan.

Angkuh dan Sensitif Terhadap Kritik

Pada umumnya para penyandang gelar palsu seperti Guntur Bumi sangat marah dan benci pada orang-orang yang mempertanyakan hal-hal yang menyangkut gelar mereka. Bagi mereka, orang-orang yang bertanya tentang hal itu dianggap sebagai orang-orang yang iri atas keberhasilan mereka.

Jadi tidaklah mengherankan jika anda bertanya pada Guntur Bumi yang membeli gelar tentang ilmu atau tesis atau desertasinya maka sangat besar kemungkinan Guntur Bumi akan balik bertanya bahkan menyerang anda sehingga permasalahan yang ditanyakan tidak pernah akan terjawab. Bahkan Guntur Bumi akan menghindari pembicaraan yang menyangkut hal-hal akademik. Tidak Percaya ? Buktikanlah bagi anda yang bertemu Guntur Bumi tanyakan dari mana dia mendapatkan gelar Doktornya…

Kepercayaan Diri yang Semu

Jika dilihat lebih jauh maka rata-rata individu yang mengambil jalan pintas dalam mendapatkan sesuatu yang diinginkan seringkali disebabkan karena rasa percaya dirinya yang semu. Di depan orang lain Dukun Guntur Bumi tampak tampil penuh percaya diri namun ketika dihadapkan pada persoalan yang sesungguhnya Guntur Bumi justru menarik diri karena merasa bahwa dirinya tidak memiliki modal dasar yang kuat.

Guntur Bumi yang membeli gelar umumnya adalah karena Guntur Bumi takut bersaing dengan para mahasiswa biasa. Guntur Bumi kurang percaya diri karena merasa bahwa dirinya tidak mampu, tidak memenuhi persyaratan dan takut gagal. Daripada mengikuti prosedur resmi dengan risiko kegagalan yang cukup tinggi (hal ini sangat ditakutkan oleh para individu narsisistik) maka lebih baik memilih jalan pintas yang sudah pasti hasilnya.