Pengantar Admin : Mohon sikapi artikel dibawah ini dengan bijak, Ambil Hikmahnya walaupun memang saya akui kata-katanya agar keras dan menusuk..Artikel ini saya ambil dari laman facebook

PEMBAHASAN
Saya akan ambil bulan Muharram sbg contoh dalam pembahasan kurafat dan tahayul kali ini. Wong Jowo bilang bulan Suro, gara2 ilat ndeso tak mampu melafalkan istilah Arab dg benar. Dinamai Suro karena di bulan Muharram ada satu hari yang bersejarah, yakni tgl 10 Muharram. Tgl ke-10 bahasa Arabnya ‘Asyuro. Maka untuk menandai bulan ini, wong Jowo menamainya dengan nama sasi (bulan) Suro.

Biasanya suasana pergantian tahun selalu diwarnai dengan
kemeriahan dan gegap gempita penuh harap. Tapi rupanya tak demikian dgn suasana Tahun Baru Hijriyah ini. Yang ada adalah suasana penuh keangkeran, wingit, mencekam dan beraroma tahayul yg kental. Terutama bagi sbagian aswojo (asli wong Jowo).

Bulan Muharram identik dg mitos seputar Nyi Roro Kidul, si Danyang Ratu Pantai Selatan, dll. Lantas bermunculanlah pamali2 konyol dan tak masuk akal, namun dipegang erat2 oleh khalayak ramai yg konon cerdas, bagaikan 4 balon yg belum meletus di lagu Balonku Ada Lima.

Di Solo tahun baru Hijriyah diwarnai dg Parade Thawaf
Kebo Bule Kyai Slamet, yang telah ditunggu fans beratnya dari kalangan manusia “berotak kebo” yg histeris rebutan tahinya yg konon ampuh buat mengusir penyakit.

19bur4
Saya heran, kalo yg namanya bule kok mesti dipuji2 lho. Dari orangnya, pemikiran, budaya bahkan sampai kepada kebonya pun dielu2kan bak berhala. Bener2 bulemania. Apalagi sampai menyembah Kerbau ini syirik namanya!

Contoh lagi :

Di satu daerah di tlatah Wonogiri, ada satu goa wingit yang saat malam 1 Suro ribuan manusia berjejal buat ngalap berkah disitu… Di Gunung Lawu, puluhan ribu manusia meramaikan lereng gunung Lawu, buat ngalap berkah di satu sendang keramat disitu… Di Gunung kawi bhkan banyak yg thawaf mengelilingi kuburan yg dianggap kuburane seorang shalih. Dan masih banyak lagi ditempat lainnya para manusia yang minta2 pd kuburan.. Pokoknya yg namanya demit, jin iprit, setan alas kobar, danyang, tuyul, banaspati, dan segala makhluk2 alien dari negeri tahayul, malam itu berpesta pora merayakan malam tahun Baru Islam dg dipuja2 oleh sbagian muslimin yg konon bertauhid.

Ha kok bisa begitu tho..?
Apa yg terjadi dimasyarakat..?

 
Kata kang Djigoer (sebut saja demikian), dia menyampaikan 1 teori konspirasi. Konon ada upaya mentahayulkan semua unsur yg bernapaskan islam, sehingga nantinya Islam itu identik dengan dunia perdemitan yg hung liwang-liwung itu. Misalnya, ritual perawatan jenasah dlm Islam adalah dg kain kafan/pocong. Maka dibuatlah mitos2 ttg hantu pocong utk mendiskreditkan tatacara perawatan jenasah tsb. Itu kata kang Djigoer lho😀

Yang jelas, mmg ajaran Islam yg memerintahkan umatnya utk beriman pd hal yg ghaib telah diselewengkan. Benihnya dari umat Islam sendiri, unsur diluar Islam hanya menyuburkan saja.

Ghaib kok dipahami sbg “klenik”.. ini genah ngawur. Klenik itu takhayul, takhayul itu khayal, khayal itu fiktif, fiktif itu bukan faka, tak pantas diyakini.

Sementara hal yang ghaib yg hrs diimani itu nyata, riil, dan keberadaannya pasti. Masalahnya banyak yg bahkan tk mampu membedakan mana yg fiktif dan mana yg nyata.

Satu contoh lagi, pentahayulan yg konyol adalah mitos malam Jum’at. Jum’at adalah sayidul ayyam. Rajanya hari, hari beribadahnya umat islam. Ha kok malah diwarnai dengan cerita2 horor ra nggenah. Herannya banyak umat Islam ngemplok bulet2 hal itu tanpa dicerna. Seakan ya memang begitulah keadaannya.

Kebodohan yg sdh masuk kategori murokab itu seringkali malah didukung dg kata2, “Itulah tradisi adiluhung, yg pantas dilestarikan, karena merupakan warisan peninggalan nenek moyang yg berharga.”

Di era modern sperti ini, tyt tradisi kurafat malah jadi aset. Bisa meraup banyak dolar. Maka dibangkitkanlah kejahilan2 yg sudah terpendam, dimunculkan ke
permukaan demi menarik doku dari sakunya turis nudis yang royal dollar. Dengan bangganya si anak pribumi bilang, “Inilah budaya luhur kami mister.”

Di saat bangsanya si bule bangun dari terlelapnya di dunia gelap mereka, bangsa ini malah kembali terlelap di dunia gelap jahiliyah yg penuh tahayul. Si bule sudah asyik ngelus2 rudal nuklir, si kurafat wal tahayul msh asyik njamasi pusaka Keris kyai Gemblung, dimandiin, dikasih minyak wangi takut si keris ngamuk kalo gak dimandiin.

Si bule telah menjelajah angkasa, si tahayul masih asyik “nyungsep” didepan kubur, nyuri kafan, maling iket pocong, dst.

Yang parah, di saat si bule bersatu dalam Uni Bule, si tahayul justru berpecah belah dalam puluhan bahkan ratusan aliran, sekte, kelompok, perguruan, dll, dll. Menunggu2 ratu adil, satrio piningit, titisan Bung Karno, titisan Nyi Blorong, sambil komat-kamit semoga keadaan berubah mak grembyang dengan hanya duduk2 menanti kehadiran mereka.

Tahayul selalu menyedihkan dan membodohi. Kebodohan adalah mangsa bagi si pinter. Selama umat Islam masih berkutat dg kurafat wal tahayul dan syirik berkedok iman pd yg ghaib ini, maka mereka hanya akan menjadi santapan bagi pemangsanya…

Semoga kita selamat dari kebodohan syirik dan kurafat…