Waktu  Susilo Wibowo belum nguztad :

Jeddah, Seruu.com – Supriatna Mat Suhri,44, tak kuasa meneteskan air mata di kantor Staf Teknis Urusan Haji (TUH) Jeddah, Rabu (15/12) sore. Berkali-kali dia melafazkan tahmid dan berucap syukur .

Supriatna memang begitu bersyukur, karena atas bantuan pegawai Konsulat Jenderal RI (KJRI) di Jeddah, dia akhirnya terlepas dari jeratan hukum berat di Arab Saudi.

Ya, sore itu, Supriatna akhirnya bisa bernapas lega setelah sepuluh hari lamanya hatinya campur aduk tak karuan. Nasibnya tak jelas karena selama sepuluh hari paspornya ditahan oleh petugas Bea dan Cukai Arab Saudi. Petugas di Bandara King Abdul Azis itu menuduh, Supriatna melakukan salah satu praktik yang sangat dilarang di negeri ini, yakni sihir.

Peristiwa yang tak pernah dilupakan sepanjang hidup Supriatna ini berawal dari kiriman amplop cokelat berisi rambut dan beberapa foto dari Tanah Air. Kala itu, Senin (6/12), sebagai ketua rombongan dari PT Sahabat Karimah, dia memimpin kepulangan 46 jamaahnya. Namun saat masuk gate, tiba-tiba petugas Bea dan Cukai bandara menghampirinya. Tanpa banyak pembicaraan, petugas tersebut langsung mengambil paspor dan menginterogasinya. Petugas menunjukkan bukti amplop cokelat atas nama dirinya berisi beberapa ikat rambut perempuan dan foto seseorang untuk menguatkan dugaan praktik sihir tersebut. “Saya tak bisa berbuat banyak karena memang amplop itu dikirim atas nama saya,” ujar Supriatna.

Dia tak berkutik dengan tuduhan itu. Untuk pemeriksaan lebih lanjut, paspornya pun ditahan dan akhirnya gagal balik ke Tanah Air. Sementara, 46 jamaah bawaannya lolos pulang meski tanpa sang ketua rombongan.

Dari barang bukti yang ditunjukkan petugas, selain berisi beberapa ikat rambut, amplop itu juga berisi 150 foto berikut tulisan pesan dan doa-doa. Kiriman rambut, tulisan dan gambar-gambar inilah menjadi bukti kuat petugas menuduh laki-laki kelahiran Ciamis ini berlaku syirik. Di Saudi, perbuatan syirik adalah salah satu dari sepuluh kriminal berat. Ancaman hukumannya bisa saja dibunuh.

Supriatna pun akhirnya teringat bahwa amplop cokelat bermasalah itu berasal dari rekan kerjanya di PT Sahabat Karimah Jakarta. Awalnya dia sudah berupaya menolak rencana kiriman itu. Namun karena rekannya dipaksa pimpinan PT Sahabat Karimah, yakni Susilo Wibowo, amplop itu akhirnya tetap dikirimkan. “Saya tidak tahu ternyata dialamatkan ke saya padahal sudah saya minta langsung ke bos,” ceritanya.

Supriatna bertambah galau karena ketika dia mendapat masalah berat, sang bos yang juga dikenal Ucil (Ustaz Cilik) asal Semarang ini sudah pulang ke Indonesia dan sama sekali tak bisa dihubungi. Praktis, dia pun pasrah dan hanya berharap bantuan dari KJRI. Beruntung, setelah dilakukan lobi yang melelahkan selama enam hari, petugas KJRI Jeddah berhasil membebaskannya dari jeratan hukum itu. Padahal jika lobi ini gagal, bisa saja Supriatna harus menjalani hukuman mati atau paling tidak penjara dua tahun di Saudi. “Saya kapok, tak mau lagi gabung PT Sahabat, apalagi setelah bos tak bisa dikontak sama sekali,” tegasnya. Dia pun meminta jamaah jangan membawa barang-barang yang berbau mistis. Meski di Indonesia dianggap sepele, namun hal tersebut masalah besar di Saudi.

Rahmatullah, staf KJRI Jeddah mengaku, karena tuduhan kesalahan Supriatna termasuk sangat berat di Saudi, maka proses lobi pun juga harus dilakukan berkali-kali. Selain dalih amplop itu bukan miliknya, lobi juga dilakukan dengan pendekatan budaya. “Kita juga katakan, Pak Supriatna ini jamaah haji yang tak tahu ada kiriman,” jelas dia. Setelah disepakati ada investigasi ulang, akhirnya Supriatna hanya dikenakan kesalahan membawa lima foto dari total 150 foto kiriman. Soal denda, sebelum ada investigasi ulang dia (Supriatna) diminta membayar di bank sekitar 1.500 riyal.

Wakil Ketua Panita Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Subhan Cholid meminta kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Indonesia yang akan menunaikan haji atau ke Saudi. Praktik-praktik yang menuju kemusyrikan, tandasnya, sangat dilarang dan pelakunya diganjar hukuman sangat berat. Pada jamaah haji, kasus ini adalah yang pertama kali. “Sebelumnya ada mahasiswa Indonesia yang ditahan dua hari karena membawa sabuk berisi rajah,” ujarnya. Selain berbuat syirik, perbuatan yang sangat dilarang di Saudi antara lain adalah membunuh dan durhaka terhadap orang tua. [mch/isman]