JAKARTA (voa-islam.com) – Sekretaris MUI Jawa Timur, KH. Mochammad Yunus mengungkapkan bentrokan antara umat Islam dengan aliran sesat Syiah pada tanggal 26 Agustus 2012 justru diprovokasi oleh pengikut Syiah dengan melakukan penyerangan lebih dulu.

Saat itu anak-anak para pengikut Syi’ah yang dipondokkan ke YAPI Bangil dan Pekalongan akan kembali pasca libur lebaran, sementara masyarakat meyakini bahwa anak-anak tersebut tidak akan kembali lagi ke YAPI Bangil dan Pekalongan karena dijamin biaya pendidikannya oleh Pemkab Sampang untuk disekolahkan / dipondokkan di lembaga pendidikan dan pesantren di sampang agar tidak tercerabut dari akar budaya, tradisi dan adat istiadatnya setempat  dan masyarakat menilai kalau mereka tetap kembali akan menjadi kader Syi’ah dan kelak akan menjadi persoalan baru yang lebih besar.

 

Karena pemahaman masyarakat seperti tersebut diatas, maka masyarakat Karang Gayam mencegah mereka dan secara baik menyarankan untuk kembali lagi ke rumah, tidak ada sedikitpun kekerasan dilakukan dan masyarakat Sunni tidak membawa senjata tajam.

 

“Tidak ada perlawanan sampai akhirnya mendekati rumah Tajul Muluk. Ketika sudah mendekati rumah Tajul Muluk ini, apa yang terjadi bapak ibu sekalian? mereka mulai megolok-olok orang Karang Gayam, Bluuran, mereka mulai melempari dengan batu, mereka mulai memancing emosi masyarakat Karang Gayam,“ ungkap KH. Mochammad Yunus dalam tabligh akbar “Mengokohkan Ahlus Sunnah” di masjid Al-Furqon DDII, Jakarta, pada Ahad (16/9/2012).

 

“Nah, ketika masyarakat Karang Gayam terpancing emosi mereka mulai membuat garis putih di depan rumah Tajul Muluk, garis putih inilah ternyata batas antara pengikut Syiah dan umat Islam,” sambungnya.

…ranjau-ranjau yang mereka tanam meledak berhamburan kelereng-kelereng. Ada yang kena tangan seseorang sehingga tangannya putus…

 

Di sinilah menurut KH. Mochammad Yunus, para pengikut Syiah menjebak umat Islam lalu mereka terkena bom ranjau yang dipasang oleh pengikut Syiah.

“Di dalam garis putih itu ketika mereka memprovokasi masa agar masuk, setelah mereka masuk, apa yang terjadi? ranjau-ranjau yang mereka tanam meledak, berhamburan kelereng-kelereng. Ada yang kena tangan seseorang sehingga tangannya putus, ada yang masuk ke bahunya, ada yang masuk ke kepalanya, ada yang masuk di pahanya dalam bentuk kelereng itu masih utuh, akhirnya orang-orang pada ketakutan,” bebernya.

 

Situasi itu memancing masyarakat untuk meminta bantuan dan mengambil persenjataan yang memadai untuk melawan kekerasan yang dilakukan oleh komunitas Syi’ah, diantaranya dengan disuarakan lewat teriakan dan  pengeras suara yang ada di mushalla , kemudian masyarakat berdatangan  untuk memberi pertolongan dan bantuan kepada mereka sehingga terjadilah bentrok yang tidak terelakkan diantara kedua belah pihak yang sama-sama membawa senjata.

 

Ia juga mengungkapkan sebuah misteri tewasnya seorang pengikut Syiah yang bernama Hamamah. Ia membantah sejumlah media yang memberitakan jika Hamamah adalah seorang perempuan.

 

“Terkait dengan hamamah, ini saya cukup sedih karena di media diberitakan bahwa orang-orang Sunni membunuh orang-orang perempuan namanya Hamamah, ini kan naif sekali. Hamamah itu laki-laki, jadi tradisi di sana, kenapa di dipanggil Hamamah karena anak pertamanya perempuan namanya Hamamah sehingga dipanggil pak Hamamah, “ ucapnya.

…Ketika bentrok itu terjadi hingga Hamamah meninggal, mereka semua kebal terhadap senjata tajam, termasuk juga Hamamah…

 

Para pengikut Syiah termasuk Hamamah ternyata kebal senjata tajam, meski begitu Hamamah akhirnya tewas dalam bentrokan tersebut.

“Orang ini ternyata ketika bom-bom itu meledak sama sekali tidak mencederai tubuh orang-orang Syiah, orang-orang Sunni itu kena, jadi korbannya itu orang-orang Sunni, ini kesaksian dari seorang bernama Ar Roih, dia adalah tenaga paramedis dari PMI, dia merawat semua orang Sunni yang menjadi korban. Ketika bentrok itu terjadi hingga Hamamah meninggal, mereka semua kebal terhadap senjata tajam, termasuk juga Hamamah,” tuturnya.

 

Dalam rilis hasil investigasi MUI Jawa Timur juga diceritakan bahwa bapak Hamamah secara provokatif dan demonstratif dengan memamerkan kekebalan tubuhnya merangsek kedalam kerumunan masyarakat Karang Gayam dengan menyerang secara membabi buta menggunakan senjata tajam berbentuk celurit panjang.

Masyarakat pun melawan dengan senjata pula, yang mengejutkan tidak satupun sabetan yang diarahkan ke tubuh bapak Hamamah mencederai tubuhnya. selanjutnya terjadilah bentrok yang berakhir pada terbunuhnya bapak Hamamah, disebabkan diantara masyarakat mengetahui cara menghadapi ilmu kebal tersebut dengan cara menyerang dari belakang.

 

Selain itu,  KH, Mochammad Yunus juga menceritakan kejadian mengejutkan yang tak pernah terungkap di media bahwa ternyata rumah Tajul Muluk yang dibakar oleh massa menimbulkan ledakan yang cukup besar, yang belakangan diketahui bahwa ledakan tersebut dipicu oleh remote control. [Ahmed Widad]