Aneh sekali! Setelah file audio ini dikeluarkan, para pendukung KD terus memaksa kami untuk menampilkan videonya. Tapi, tuntutan ini tidak berlaku untuk percakapan antara Kang Dicky dan seorang peruqyah yang dipermalukannya habis-habisan. Khusus kasus ini, transkrip saja sudah cukup. Bahkan bisa dijadikan barang bukti untuk menunjukkan kelemahan hujjah ruqyah.

Kami tampilkan rekaman acara dialog antara Ustadz Perdana Akhmad dan Dicky Zainal Arifin. Dialog ini terjadi pada 19 maret 2012 (24 Agustus 2011). Durasinya 24:11 menit.

Dialog ini tidak terlalu berarti karena tidak ada kesepakatan yang diperoleh. Materi yang dibahas fokus pada penolakan Hikmatul Iman terhadap ruqyah yang dikatakannya syirik. Dalam dialog ini, Kang Dicky membahas secara berputar-putar dan tidak mau menjawab dengan tegas. Salah satu materi yang dijadikan rujukan oleh Ustadz Perdana adalah artikel fatwa ruqyah dari kang Dicky dan Percakapan Peruqyah dan Kang Dicky.

Rekaman Dialog Perdana Akhmad dan Dicky Zainal Arifin

Transkrip Rekaman Dialog

Seperti kami ungkap sebelumnya, dialog ini tidak memberikan hasil berarti. Kang Dicky dengan elegannya bertaqiyah (berpura-pura) untuk menyembunyikan fakta. Ini dilakukan dengan memberikan jawaban yang berputar-putar padahal itu cukup dijawab dengan ya atau tidak.

Apakah Nabi Memiliki Tenaga Dalam?

[6:50]

PA: Jadi menurut akang, rasulullah itu punya tenaga dalam tidak?

KD: Makanya, definisi tenaga dalam itu apa dulu?

PA: Jadi, menurut akang. Yang katanya rasulullah. Tidak hanya rasulullah, adhama, nabi adam memiliki tenaga dalam 100%.

Ini pertanyaan sederhana yang dijawab ya atau tidak. Kenapa harus berbalik lagi membahas definisi tenaga dalam? Padahal, Kang Dicky sendiri di awal dialog sudah menjelaskan definisi tenaga dalam yang intinya berhubungan dengan mitokondria. Definisi ini pun diterima oleh Ustadz Perdana sehingga tidak ada gunanya lagi kembali ke awal. Cukup akui saja bahwa benar para nabi memiliki tenaga dalam.

Status Novel Arkhytirema. Fiksi atau Fakta?

[7:24]

PA: Ini (Red: Novel Arkhytirema) dikatakan murid HI dari hasil time travel Kang Dicky.

KD: Ini novel?

PA: Ya….

KD: Novel apa?

PA: Apakah ini fakta atau hanya sekadar fiksi?

KD: Itu novel.

PA: Berarti?

KD: Ini Harry Potter lah.

PA: Berarti apa? Fiksi atau fakta?

KD: Ya, gini aja. Kalau novel apa?

PA: Fiksi kan? Bapak setuju kan?

KD: Kalau novel itu apa?

Sekali lagi, pertanyaan sederhana dibuat rumit oleh Kang Dicky. Apakah Novel Arkhytirema fiksi atau fakta? Ini pertanyaan yang sangat mudah. Ya atau tidak. Tidak sulit jika memang Kang Dicky berkeinginan untuk menjawab. Tapi, Kang Dicky menjawab dengan berputar-putar. Hebatnya Kang Dicky, Ustadz Perdana sendiri sampai terlihat kebingungan untuk menjawab.

Sangat disayangkan Ustadz Perdana terkena jebakan silat lidahnya Kang Dicky. Ustadz Perdana mengubah pertanyaannya dari pilihan fiksi dan fakta menjadi fiksi saja. Ini membuat Kang Dicky unggul karena dia berada di dua posisi. Di hadapan muridnya, Kang Dicky tidak kehilangan muka karena berbohong menyatakan novel sebagai fiksi. Di hadapan Ustadz Perdana, Kang Dicky mengarahkannya untuk berfikir bahwa dia setuju bahwa status novel itu sebagai fiksi.

Bahasan ini terus berputar-putar. Tidak ada hasilnya. Pada akhirnya, Kang Dicky mengalihkan bahasan dengan ajakan untuk mengalihkan waktu demi umat dan tidak membahas novel. Dicky memang ahli silat. SILAT LIDAH!

Bahas Tafsir Bismillah

[9:50]

KD: Jadi, sekarang dari Bismillah saja. Dengan nama Allah. Saya itu mengajarkan kepada murid-murid saya agar selalu dengan nama Allah. Bismillah. Jadi, apapun yang kita lakukan harus dengan nama Allah, bukan yang lain. Yang pertama diajarkan itu harus tauhid dulu……

Satu lagi tipuan Kang Dicky untuk mengalihkan arah pembicaraan. Kang Dicky beralih dengan membahas pentingnya tauhid, pendidikan agama, tafsir bismillah, pentingnya beribadah, memikirkan air. Bahkan, Kang Dicky khusus meminta agar ceramahnya tidak dipotong.

Bersambung

Insya Allah, kami akan melanjutkan lagi analisa terhadap dialog yang berputar-putar antara Kang Dicky dan Ustadz Perdana dalam artikel selanjutnya.