Kontroversi tentang Novel Arkhytirema mulai menyeruak ke permukaan. Melihat fakta yang disampaikan Hikmatul Iman Watch, banyak pihak yang ikut mempertanyakan status fiksi novel ini dan kaitannya dengan paham agama. Salah satunya adalah Rahlil Prasetya yang mengirimkan kami informasi unik ini.

Kronologi Peristiwa

Rahlil bertanya pada Teh Eli Kang Tedi, agen resmi novel Arkhytirema, tentang status novel ini.

Rahlil: Itu sebetulnya fiksi atau nonfiksi?

Jawaban Teh Eli Kang Tedi sama persis seperti gurunya ketika bertemu dengan Perdana Akhmad.

Teh Eli Kang Tedi: Novel. 🙂

Novel bukan-bukan
Novel bukan-bukan
Novel bukan-bukan
Novel bukan-bukan
Novel bukan-bukan
Novel bukan-bukan

Akhirnya, dialog ini berakhir dengan pemblokiran dari pihak Teh Eli Kang Tedi. Di screenshot di atas, Anda bisa melihatnya dari tampilan nama Teh Eli Kang Tedi yang berubah hitam, artinya tidak bisa lagi diklik.

Apa Yang Disembunyikan?

Wikipedia sendiri menjelaskan bahwa novel adalah karya fiksi prosa. Walaupun begitu, ada juga novel yang bersumber dari kisah nyata atau sebaliknya, kisah fiksi yang digabungkan dengan fakta seperti Da Vinci Code.

Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang ditulis secara naratif; biasanya dalam bentuk cerita.

Sumber: Wikipedia — Novel

Sementara itu, fiksi adalah istilah sastra yang berarti tidak benar terjadi atau sebuah karangan belaka.

Fiksi adalah sebuah istilah sastra yang berarti tidak benar terjadi atau sebuah karangan belaka. Kata sifatnya atau adjektif adalah fiktif.

Sumber: Wikipedia — Fiksi

Untuk menjawab status fiksi atau non-fiksi novel Arkhytirema, sepertinya sangat sulit. Dibilang fiksi bukan, nonfiksi juga bukan. Jika dijawab fiksi, jelas ada bukti nyata ucapan Kang Dicky sendiri menyatakan kisah ARKHYTIREMA dibuat dalam bentuk novel agar mudah dijelaskan. Jika dijawab nyata, tentu memancing tanggapan keras masyarakat. Akhirnya, satu-satunya jalan selamat hanyalah memutar-mutar pertanyaan hingga si penanya kebingungan. Jadi, apa sebetulnya yang kalian sembunyikan?