Habaib Kampungan Berprofesi Dukun Di Arosbaya Dan Burneh Bangkalan – Madura.

Dua kecamatan tersebut terdapat rumah rumah mewah, lebih dari sekedar rumah kalangan pejabat Tinggi di Jakarta, bahkan termasuk seorang Muslim yang rakus dan tak Wajar. ” Sebutan” habaib dalam praktek perdukunan ala aswaja terbilang luar biasa. Sama dengan bentuk penipuan terhada umat hanya dengan sekedar mengaku “keturunan Rasulullah”, dan konon juga “Guru Kyai Haji Hasyim Asy’ary”, Kyai Muhammad Kholil Bangkalan menyebut dirinya sebagai keturunan Rasulullah, bahkan terpampang ditembok Pendopo KabUpaten Bangkalaan, silsilahnya dibuat sedemikian rupanya. Mengapa begitu senang bila kalian “Mengaku keturunan seorang Rasul”, sedangkan perbuatannya parah dan tidak bersahabat dengan tauhid, selain akrab dengan syirik. Masak iya keturunan Rasul gemar praktek dalam perdukunan.

Wilayah “Arosbaya dan Burneh” dua kecamatan yang dihuni oleh mayoritas Islam Muqallid, seram dan sangar, selain egonya yang tinggi. Distulah habib habib yang berprofesi dukun, menjual ajimat dan minyak wangi serta berbagai persyaratan sesuai dengan keinginan pelanggan, pesugihan atau minyan pengasih , juga berbagai jampi jampian ala habib menjadi bisnis paling laris. Memang tamunya si habib habi ini tak dapat dihitung jumlahnya, rata rata memang, mereka kalangan awam yang memang awam segalanya, awam agama dan mereka yang hanya kenal menurut warisan orang tua, bukan sebuah hasil kajian dan penelitian yang membuatnya mereka semakin yakin. Habib habib di Madura bagaikan “Raja” , mata mata kaum awam dan mukanya akan menunduk bila melihat habib, karena saking takutnya. Mereka dibuat percaya dan yakin kalau para habib di Madura “tau ilmu Ghaib”.

Praktek perdukunan ala habib di Madura banyak menggunakan jasa tukang pukul, preman dan bajingan atau mereka yang berani mati demi habib. Belum lagi makelar yang yang mempromosikan kehebatan habib, dan para marketing habib habib ini memang termasuk luar biasa, karena mereka bak budak budak yang terkendali sedemikian rupa dalam oprasinya. Sangat luar biasa, karena habib menjadi mumuk umat yang membuat umat bukan mengerti agama atau Islam, tetapi sebaliknya umat Islam pedesaan dibuat jumud dan taqlid dengan ucapan habib kalau habib habib di kedua tempat tersebut memang kramat dan ucapannya pasti terjadi. Bila anda berkunjung kesana, dan bertanya dikedua tempat , dimana pendoponya habib yang paling hebat , pasti semua orang tau. Tetapi yang jelas mereka itu dukun, yang buka praktek di mana mana di madura, konon marketing habib ini hingga menjajakan habib habib keberbagai tempatnya, kalau ditanya istrinya dan selirnya berserakan di mana mana. Silahkan kalau memang ingin tahu ‘habib’ yang seperti datangi dua tempat tersebut.

Mantan Bupati, Fuad bangkalan juga ngaku keturunan rasulullah dari buyutnya KH, Muhammad Kholil bangkalan (Habib), tetapi semua orang tahu siapa Fuad, hanya karena mulutnya masyarakat bangkalan terkunci untuk membuka borok muka Fuad yang juga pernah mengeluarkan instruksi “Bunuh pak Amin Rais” di jaman Gusdur” rupanya adalah seorang homo dan seorang petualang yang tak tentu rimbanya, bergelimag dalam berbagai praktek dosa. Tetapi karena dimata Masyarakat bangkal Fuda keturunan nabi, sejelek apapun perbuatannya oleh masyarakat bangkalan itu dianggap “wali Khilaf” , heheh lucu di madura. Memang di Madura pengertian wali itu identik dengan mereka yang penunggu kuburan, memulyakan kuburan dan mengkramatkan kuburan, bergaya pesona orang gila atau sinting dan mengamuk, atau perbuatan diluar batas, asal anak atau putra kyai melakukannya, maka disebut “Wali atau Khilaf”,

Seorag anak kyai yang nakal dan merampas uang tamunya atau mengambil rokoknya di Madura itu dianggap berkah bagi korbannya, karena anak anak Kyai yang idiot itu menurutnya adalah karomah kyai yang melahirkan anak “khilaf”, jadi prilaku gila atau nakal di madura selama itu muncul dari seorang anak kyai, maka sama dengan perbuatan tangan tuhan lewat para walinya. Entah kesimpulan gila gilan kayak gini dari mana , menjadi penyakit yang menjangki di orang Madura, sehingga takut menegor anak kyai yang nakal, misalkan mengambil barang orang lain. Sebodoh itukah aswaja memahami kata “wali Allah”, kalau itu benar,maka tak salah ceritanya Situs Resmi NU :ketika salah satu pendiri NU konon kirim surat kekuburan, minta izin mendirikan NU, beberapa hari kemudian “surat itu hilang”, menurut pengakuan situs resmi NU, berarti surat itu telah drestui untuk mendirikan NU ?” hahahahhah, sama tu ceritanya, sama sama gilanya, jadi kalau mau melihat penyakit menular dan virus mengaku “wali Allah” bertenggerlah di alam kuburan aswaja ? “naudzubillah”