Berikut adalah “fatwa” nyleneh yang ‘nampaknya” di amini bahkan dibanggakan sebagai sebuah kebenaran oleh sebagian manusia :

” Di beberapa pondok pesantren, sering kali shalat tarawih dilaksanakan dengan gerakan yang super cepat. Hal ini tentu mengundang pertanyaan dari sebagian pihak.

Kiai Adib pernah ditanya salah seorang jamaah masalah tersebut. Shalat yang terlalu cepat demikian apakah sah ?

Mendapat pertanyaan demikian, dijawab Kiai asal Sukoharjo ini dengan ringan, ” Kalau ada orang mengendarai kendaraan dengan cepat, tentu akan fokus. ”

“Nah, sebaliknya kalau orang mengendarai pelan, kemungkinan dia akan kehilangan fokus. Tengok kanan kiri lah. Lihat gedung bagus, gadis cantik, dan sebagainya. Begitu juga dengan tarawih cepat, husnudzon-nya mereka mungkin akan lebih fokus shalatnya. (Ajie Najmuddin). “

Bisa Anda simak langsung ‘fatwa’ tsb secara gratis di https://www.facebook.com/permalink.php?story_fbid=548654501865665&id=120416661356120

Atau simak langsung di situs resmi mereka http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,8-id,46056-lang,id-t,Tarawih+Ngebut-.phpx

__________

Sebenarnya tidak harus heran dengan tanggapan kyai itu yang sangat “ilmiah” tsb, hingga menggunakan qiyas, yang merupakan bab penting di Ushul Fiqh. Shalat Taraweh diqiyaskan dengan mengendarai kendaraan ?????? [Be seriouse, will yah ??]

Jika Taraweh cepat, itu ibarat nyetir mobil cepat-cepat. Makin cepat makin baik ; karena dua hal :

[1] Pengendara yang cepat pasti mempertajam fokusnya.. Maka, shalat orang yang cepat pasti tajam fokusnya ????? [Nggak tau ya, mobil ngebut pun banyak yang bilang ugal2an lho ??!!]

Tidak heran di bbrp daerah, ada seorang Kyai yang ceramah sana sini dan mengajar Tasawuf dicampur dengan Fiqh Syafi’i, serta paling anti-Wahabi, namun sekaligus paling jahil tentang Wahabi, mengkaji bab shalat, harus thuma’ninah sebagaimana shalatnya Nabi, shalat harus tenang-tenang dan khusyu’, tapi bab itu dilanggar sendiri ketika jadi imam..

[2] Berlama-lama shalat taraweh dan memperlamban bacaan atau gerakan justru membuat manusia melayang fikirannya, mengantuk, dan bosan..

Well, begitulah fikiran sang Kyai. Dan mungkin itulah yang terjadi pada diri Kyai tersebut. Atau, memang itulah yang sudah menjadi tradisi beliau serta manusia semacamnya (baik yang se-ormas atau se-pemikiran). Tentu saja, giliran tahlilan, maulidan, dan rowahan ingin berlama-lama ; Kenapa ???? Karena di dalam program ada sesi ‘makan-makan’, dan moga-moga selesai acara ada salam tempel ‘amplop’. Atau, minimal : dapet nasi berkat (nasi bungkus). Makanya, doyan lama-lama saat tahlilan, maulidan dan semacamnya..

Karena itu : Ketika ada amalan yang (walo) cenderung bid’ah tapi menguntungkan perut dan dompet, pasti dipertahankan dan dibela. Kalau perlu, buka semua kitab kuning dan cari dalil. Akhirnya (dianggap) ketemu deh dalilnya..

Karena itu : Giliran ada amalan yang jelas-jelas sunnah tapi kok nggak sesuai tradisi atau menurunkan gengsi, tidak akan dipertahankan malah bakal dilawan dan ditendang..

Makanya :

Giliran maulidan, rela berjam-jam..
Giliran Tarawehan, ga rela sampe 1/2 jam..
Giliran tahlilan, rela berlama-lama..
Giliran jenggotan, ga rela bertahan jenggotnya.
Giliran haulan, rela dibela-bela..
Giliran cingkrangan, getol menghina-hina..

Apa masih belum jelas bahwa Sunnah itu memang lawan dari Bid’ah ??????

Memang.. Kalau seseorang sudah terlanjur cinta Bid’ah, pasti kesulitan dia mencintai Sunnah..

Dan sebaliknya.. Kalau seseorang sudah terlanjur cinta Sunnah, pasti kesulitan menerima Bid’ah..

Tapi, bukan berarti semua yang pernah mengamalkan Sunnah barang beberapa kali langsung dicap Ahli Sunnah.. Juga sebaliknya, tidak semua yang pernah mengamalkan Bid’ah barang beberapa kali langsung dicap Ahli Bid’ah..

So, haruskah kita heran akan taraweh ngebut ???? Ga Harus Heran, Lah !!

Ya, tidak harus heran. Dari dulu memang sudah begitu. Sudah fanatik, senang bertaqlid buta pula. Benar, kita semua masih saudara. Benar, kita masih harus menjalin hubungan bersama. Tapi, saudara keterlaluan nylenehnya. Ketika dinasehati dan dikasih hati, malah mencaci dan memaki. Dikasari, tambah menjadi. Ketika sudah kalah hujjah, ngambek malah…

Namun, syukurlah sebagian Kyai dan Ustadz terhormat tidak mengikuti “tarekat” tarawehan super kilat ala sebagian besar kyai kecil dan ustadz kecil. Masih ada (atau cukup banyak) imam dari kalangan Kyai dan Ustadz yang masih memperhatikan thuma’ninah dalam shalat taraweh. Bacaan mungkin agak cepat, namun bukan cepat brutal dan tunggang langgang.. Syukurlah..

Read more : http://khansa.heck.in/fatwa-taraweh-ngebut.xhtml