Di komunitas Lembaga Seni Bela Diri Hikmatul Iman (LSBD HI), sepertinya sudah tidak jelas lagi batasan antara novel khayalan dengan dalil qur’an dan sunnah. Dongeng Arkhytirema karangan ngawur guru mereka, Dicky Zainal Arifin, dijadikan dasar untuk membahas permasalahan agama. Seolah-olah dongeng ini adalah sumber hukum Islam kelima setelah Qur’an, Sunnah, Ijma, dan Qiyas.

Kami temukan bahwa mereka mengaitkan Ramadhan dengan keyakinan mistis yang jelas sekali tidak ilmiah. Seorang murid HI menyatakan Ramadhan adalah bulan penuh fluktuasi energi dan akan mengakselerasi sel-sel mitokondria.

Rhamadya, Ramadhan versi Lemurian.
Rhamadya, Ramadhan versi Lemurian.

Kang Endang

Rhamadan atau kata orang LEMURIAN mah disebut RHAMADYA adalah bulan yg penuh dg fluktuasi energi di mana jk kita pakai untuk latihan sangat bagus untuk mengakselerasi sel2 mythocondria kita karena di bulan inilah masa2 terjadinya kesatuan antara tubuh kita dg alam semesta. Selamat menunaikan ibadah puasa, tetaplah semangat untk berlatih. SAMPRAZAAN

Sumber: https://www.facebook.com/groups/360601457395130/permalink/371317619656847/

Poin-Poin yang Diperoleh

Beberapa poin yang kami peroleh dari tulisan orang ini adalah:

  1. Ada keyakinan hubungan antara Ramadhan dengan Bangsa Lemurian.
  2. Definisi Ramadhan sebagai bulan fluktuasi energi dan akselerasi mitokondria.

Secara ringkas, inilah bantahan kami:

  1. Yakinkah Bangsa Lemurian itu nyata keberadaannya? Jika tidak yakin, belum teruji secara ilmiah, dari mana bisa mengaitkannya dengan konsep Ramadhan versi Islam?
  2. Sudahkah ada penelitian ilmiah tentang fluktuasi energi dan akselerasi mitokondria di Bulan Ramadhan? Apakah Dicky sudah menelitinya dan hasil penelitiannya terbuka dan telah teruji oleh berbagai kalangan ilmuwan? Ataukah itu hanya klaim omongannya saja?

Jika memang benar murid Hikmatul Iman adalah orang-orang yang kritis dan selalu berfikir ekstra, melebihi manusia lainnya yang tidak berlatih tenaga dalam, tentu keyakinan mereka tidak akan hanya bersumber dari omongan gurunya saja. Keyakinan itu harus teruji secara ilmiah, terbuka, dan siap untuk dikritik.

Jika ternyata mereka hanya mencukupkan dengan omongan gurunya saja, tanpa merasa perlu untuk membuktikan argumen mereka, maka jelas mereka hanyalah orang-orang yang tertipu. Terbuai oleh omong kosong gurunya. Merasa diri sudah pintar, cerdas sehingga lebih memilih menutup diri dari kritikan pihak lain. Padahal, itu adalah bentuk ketakutan akan terbongkarnya kebohongan berjamaah mereka.

والله أعلمُ بالـصـواب

Bukti Diskusi Lengkap

Rhamadya, Ramadhan versi Lemurian.
Rhamadya, Ramadhan versi Lemurian.

Kang Endang

Kang Endang adalah murid Hikmatul Iman cabang Karawang, bisa dilihat dari keterangan dari halaman profilnya.

Kang Endang, murid Hikmatul Iman.
Kang Endang, murid Hikmatul Iman.
Kang Endang, murid Hikmatul Iman Karawang.
Kang Endang, murid Hikmatul Iman Karawang.